Berubah Itu Langkah Demi Langkah

“BERUBAH”. Banyak orang yang ingin berubah. Namun dia merasakan begitu sulit berubah. Apa penyebabnya?

Anda pernah membaca artikel Bisakah Memakan Sepeda?

Saat pertanyaan ini diajukan kepada peserta pelatihan, jawabannya macam-macam. Banyak yang mengatakan tidak mungkin. Bagaimana bisa memakan sepeda? Mereka anggap hanya bercanda.

Padahal, orang yang memakan sepeda bukan fiktif bukan juga bercanda. Ini benar, adanya tercatat di Guiness Book of Record. Bahkan katanya, sudah terpecahkan oleh orang yang memakan Harley Davidson. Wow!

Bagaimana bisa? Inilah kuncinya. Ini adalah kunci yang bisa membuat perbedaan sangat mendasar. Pemahaman inilah yang menjadikan seseorang menjelma menjadi orang hebat atau tidak. Inilah rahasia berubah!
Continue reading

Para Pendidik Akhlak Mulia

Pendidikan sebagai sebuah proses penanaman nilai-nilai, tidak terkecuali adalah pendidikan akhlak mulia, terdapat pihak-pihak yang berpengaruh secara signifikan. Mereka itu adalah para pemimpin di berbagai levelnya. Terdapat sebuah pepatah yang mengatakan bahwa, watak, perilaku, karakter atau akhlak sebuah masyarakat tergantung pada para pemimpinnya. Keadaan masyarakat pada hakekatnya adalah cermin dari siapa yang memimpinnya.

Dalam level kecil, —–yaitu keluarga, ada pepatah Jawa mengatakan bahwa, kacang panjang tidak pernah meninggalkan lanjarannya. Serupa dengan pepatah itu, juga terdapat pepatah lain yang mengatakan bahwa, daun tidak pernah jatuh dari pohonnya. Maka artinya bahwa. sedemikian kuat pengaruh pimpinan keluarga terhadap watak, perilaku, karakter, atau akhlak terhadap orang-orang yang berada di bawah asuhannya.
Continue reading

Mendidik Anak Agar Berkharakter

Akhir-akhir ini mulai dirasakan tentang pentingnya pendidikan karakter. Menteri Pendidikan Nasional dan juga menteri agama mengkampanyekan konsep itu. Bangsa Indonesia harus dibangun karakternya, sedangkan membangunnya, di antaranya melalui pendidikan. Oleh karena itu di mana-mana dibicarakan tentang pendidikan karakter itu.

Banyak orang mengartikan pendidikan berbeda dengan pengajaran. Pendidikan memiliki pengertian lebih luas dan mendalam dari sebatas pengajaran. Pengajaran hanya sebatas kegiatan memberikan seperangkat pengetahuan kepada siswa. Dalam pengajaran yang penting, bahwa para siswa yang diajar menjadi mengerti, paham, dan mendalami apa yang dipelajarinya itu. Sedangkan pendidikan, adalah kegiatan mengubah watak,. perilaku, atau karakter para siswa.
Continue reading

Kapan Sekolah Bebas Asap Rokok

Kampung tanpa asap rokok? Jangan berpikir bahwa itu hanya sebuah slogan saja.Karena warga RT 07/WR 06 Bulaksari, Kelurahan Semampir, Kecamatan Wonokusumo,Surabaya telah membuktikannya.
Continue reading

Pengumuman Kelulusan 2011

PEMERINTAH KABUPATEN BANYUWANGI
DINAS PENDIDIKAN PEMUDA DAN OLAH RAGA
SMA NEGERI 1 MUNCAR
Jalan Tapanrejo No 1, ( (0333) 592548, Muncar, Banyuwangi

 

PENGUMUMAN KELULUSAN

 

Berdasarkan :

  1. Keputusan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Propinsi Jawa Timur Nomor: 421.3/911/103.04/2011 tanggal 29 Pebruari 2011 tentang Pedoman Teknis Penyelenggaraan Ujian Nasional dan Ujian Sekolah
    SMP/MTs dan SMA/MA Tahun Pelajaran 2010/2011;
  2. Daftar Kolektif Hasil Ujian Nasional dan Ujian Akhir Sekolah
    Tahun Pelajaran 2010/2011;
  3. SK Kepala SMA Negeri 1 Muncar Nomor: 423.7/680/429.245.300090/2011 Tentang Kriteria Kelulusan Ujian Tahun Pelajaran 2010/2011;
  4. Rapat Pleno Dewan Guru Tanggal 16 Mei 2011.

Peserta Ujian yang namanya tercantum dibawah ini dinyatakan

LULUS

 

Berikut ini adalah Nama-nama siswa yang dinyatakan LULUS  : Continue reading

Kelulusan Siswa SMU di Jatim Capai 99 Persen

Angka kelulusan ujian nasional tingkat SMA/MA/SMK di Jawa Timur mencapai 99%. Dari 1.536.000 siswa yang mengikuti Ujian Nasional (UN), 709 siswa di antaranya tidak lulus. Continue reading

Pendidikan Memihak Siapa ?

PENDIDIKAN setiap bangsa mesti memiliki ideologi, yaitu keyakinan, nilai, cita-cita, visi, dan metode untuk meraihnya yang setia memajukan bangsa dan negaranya.
Continue reading

Teori-Teori Motivasi

Teori-Teori Motivasi

Motivasi dapat diartikan sebagai kekuatan (energi) seseorang yang dapat menimbulkan tingkat persistensi dan entusiasmenya dalam melaksanakan suatu kegiatan, baik yang bersumber dari dalam diri individu itu sendiri (motivasi intrinsik) maupun dari luar individu (motivasi ekstrinsik).

Teori-Teori Motivasi

Seberapa kuat motivasi yang dimiliki individu akan banyak menentukan terhadap kualitas perilaku yang ditampilkannya, baik dalam konteks belajar, bekerja maupun dalam kehidupan lainnya.. Kajian tentang motivasi telah sejak lama memiliki daya tarik tersendiri bagi kalangan pendidik, manajer, dan peneliti, terutama dikaitkan dengan kepentingan upaya pencapaian kinerja (prestasi) seseorang. Dalam konteks studi psikologi, Abin Syamsuddin Makmun (2003) mengemukakan bahwa untuk memahami motivasi individu dapat dilihat dari beberapa indikator, diantaranya: (1) durasi kegiatan; (2) frekuensi kegiatan; (3) persistensi pada kegiatan; (4) ketabahan, keuletan dan kemampuan dalam mengahadapi rintangan dan kesulitan; (5) devosi dan pengorbanan untuk mencapai tujuan; (6) tingkat aspirasi yang hendak dicapai dengan kegiatan yang dilakukan; (7) tingkat kualifikasi prestasi atau produk (out put) yang dicapai dari kegiatan yang dilakukan; (8) arah sikap terhadap sasaran kegiatan.

Untuk memahami tentang motivasi, kita akan bertemu dengan beberapa teori tentang motivasi, antara lain : (1) teori Abraham H. Maslow (Teori Kebutuhan); (2) Teori McClelland (Teori Kebutuhan Berprestasi); (3) teori Clyton Alderfer (Teori ERG); (4) teori Herzberg (Teori Dua Faktor); (5) teori Keadilan; (6) Teori penetapan tujuan; (7) Teori Victor H. Vroom (teori Harapan); (8) teori Penguatan dan Modifikasi Perilaku; dan (9) teori Kaitan Imbalan dengan Prestasi. (disarikan dari berbagai sumber : Winardi, 2001:69-93; Sondang P. Siagian, 286-294; Indriyo Gitosudarmo dan Agus Mulyono,183-190, Fred Luthan,140-167). Continue reading

Konsep Dasar Manajemen Peserta Didik

Konsep Dasar Manajemen Peserta Didik

A. Apa yang Dimaksud dengan Manajemen Peserta Didik?

Manajemen peserta didik dapat diartikan sebagai usaha pengaturan terhadap peserta didik mulai dari peserta didik tersebut masuk sekolah sampai dengan mereka lulus sekolah.  Knezevich (1961) mengartikan manajemen peserta didik atau pupil personnel administration sebagai suatu layanan yang memusatkan perhatian pada pengaturan, pengawasan dan layanan siswa di kelas dan di luar kelas seperti: pengenalan, pendaftaran, layanan individual seperti pengembangan keseluruhan kemampuan, minat, kebutuhan sampai ia matang di sekolah.

peserta didik

Secara sosiologis, peserta didik mempunyai kesamaan-kesamaan. Adanya kesamaan-kesamaan yang dipunyai anak inilah yang melahirkan kensekuensi kesamaan hak-hak yang mereka punyai. Kesamaan hak-hak yang dimiliki oleh anak itulah, yang kemudian melahirkan layanan pendidikan yang sama melalui sistem persekolahan (schooling). Dalam sistem demikian, layanan yang diberikan diaksentuasikan kepada kesamaan-kesamaan yang dipunyai oleh anak. Pendidikan melalui sistem schooling dalam realitasnya memang lebih bersifat massal ketimbang bersifat individual.

Layanan yang lebih diaksentuasikan kepada kesamaan anak  yang bersifat massal ini, kemudian digugat. Gugatan demikian, berkaitan erat dengan pandangan psikologis mengenai anak. Bahwa setiap individu pada hakekatnya adalah berbeda. Oleh karena berbeda, maka mereka membutuhkan layanan-layanan pendidikan yang berbeda.

Layanan atas kesamaan yang dilakukan oleh sistem schooling tersebut dipertanyakan, dan sebagai responsinya kemudian diselipkan layanan-layanan yang berbeda pada sistem schooling tersebut.

Adanya dua tuntutan pelayanan terhadap siswa,– yakni aksentuasi pada layanan kesamaan dan perbedaan anak–, melahirkan pemikiran pentingnya manajemen peserta didik  untuk mengatur bagaimana agar tuntutan dua macam layanan tersebut dapat dipenuhi di sekolah.

Baik layanan yang teraksentuasi pada kesamaan maupun pada perbedaan peserta didik, sama-sama diarahkan agar peserta didik berkembang seoptimal mungkin sesuai dengan kemampuannya. Continue reading

Pengumuman Kelulusan UN 2010

dolphin

Seringkali manusia merasa bangga dengan keberhasilannya. Misalnya, seseorang yang lulus UN (Ujian Nasional). Bisa dimaklumi jika ia merasa senang akan keberhasilannya. Namun, patutkah ia merasa sombong, menganggap kecerdasannya sebagai penentu utama kelulusan itu?

Marilah bernalar untuk menjawab pertanyaan di atas. Mari kita coba pikirkan secara jujur apa saja yang menjadikan orang tersebut lulus dalam ujiannya.

Tak dipungkiri, persiapan matang dan kerja kerasnya dalam belajar merupakan penentu penting. Tapi mungkinkah ia belajar keras tanpa makan, minum, penerangan, buku, alat tulis, lembaga pendidikan? Jawabannya: mustahil. Artinya, orang-orang yang berjasa dalam tersedianya bahan makanan dan minuman seperti petani, pedagang, pembuat sumur, petugas penjernihan air, dan sebagainya, juga bersumbangsih dalam kelulusannya. Ini bermakna pula keberhasilannya tak luput dari jasa karyawan perusahaan listrik, pegawai perusahaan buku, kertas, alat tulis, penerbitan, guru dan karyawan lembaga pendidikan.

Keberhasilannya dikarenakan pula dukungan sarana transportasi ke tempat ujian. Orang-orang yang turut menghasilkan kendaraan, membuat jalan, menjadi sopir angkutan atau petugas perusahaan bahan bakar minyak juga turut andil dalam memperlancar dirinya sampai di tempat ujian dengan selamat. Saudara, tetangga, orang di jalanan yang ia lalui di hari ujian, bahkan semua orang di sekelilingnya pun termasuk yang menentukan keberhasilannya. Mengapa? Sebab di hari itu, tak satu pun dari mereka yang melakukan perbuatan yang berakibat gagalnya ia menempuh ujian.

Jika dihitung semua, sekitar puluhan bahkan mungkin hingga ribuan orang yang sebenarnya turut andil dalam kelulusannya. Segala kecerdasan otak dan persiapan matangnya takkan menjadikannya lulus ujian jika perjalanannya ke tempat ujian mengalami kecelakaan mematikan akibat sopir angkutan umum yang ceroboh, atau orang jahat yang melukainya hingga parah untuk merampoknya menjelang ujian, dan sebagainya. Kesimpulannya, seluruh orang yang turut berjasa, namun yang seringkali ia lupakan ini, seolah melakukan tugasnya masing-masing demi memudahkannya lulus ujian masuk perguruan tinggi. Padahal ia sama sekali tak pernah meminta, memerintahkan atau mengendalikan mereka semua untuk membantu mewujudkan cita-citanya.

Demikianlah, tidak sepatutnya orang merasa sombong dan hebat dengan pencapaiannya. Sebaliknya, kebahagiaan karena keberhasilan itu hendaknya diiringi rasa terima kasih kepada orang lain yang telah ikut berjasa, rasa syukur dan rendah diri di hadapan ALLAH SWT, Pemberi sejati keberhasilan itu.

Pengumuman Kelulusan UN 2010

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.