Mulailah dengan A; B; C;

Dalam belajar bahasa, baik bahasa indonesia maupun bahasa inggris, semuanya diawali dengan mengenal dan memahami betul tentang A, B, C,

Ya, kita semua sudah mengenal itu, tapi, apakah kita sudah menerapkan untuk mengawali belajar kita, karena memang hidup ini sebuah proses belajar yang berkesinambungan dan tidak pernah henti, belajar seumur hidup, long life education, atau belajar mulai dari rahim sampai masuk liang lahat.

Mari kita kembali memahami mengapa kita harus memulai kembali dari A, B, C,

A adalah untuk Assured (=pastikan)
Maka dalam hidup ini kita harus benar-benar pastikan, bahwa kita ini mau untuk assured “pastikan”, namun apa yang harus kita pastikan,,?

1. Pastikan kita punya impian (=dream, goal, destination, tujuan, cita-cita)
Itulah yang pasti harus kita punyai, sebuah cita-cita, tujuan, detination, goal, dream. Sebab tanpa itu tidak akan ada yang kita kerjakan, tidak akan pernah ada sesuatu yang kita lakukan.
Coba aja kita simak (i have a dream “westlife” mode on), kita harus punya dream, impian, cita-cita yang tinggi dan setinggi mungkin. Sebuah lagu yang harus selalu selalu kita dengungkan di telinga, hati dan pikiran kita, hati selalu kita jaga, kita pelihara, dan kita rawat. Jangan sampe dream kita hilang menguap begitu saja, atau jangan sampai dicuri orang, karena sekarang ini banyak orang yang kehilangan cita-citanya, baik hilang menguap dengan sendirinya ataupun hilang dicuri orang. “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS2, Al Baqarah:261)

2. Pastikan kita mau berkorban
Setelah kita menetapkan dream kita, goal kita, destination kita, maka hal kedua yang pasti dan harus kita lakukan adalah mau berkorban, rela berkorban apapun untuk sesuatu yang menjadi dream kita. Paling tidak adalah pengorbanan waktu dan tenaga, dan tidak kalah pentingnya, dan ini yang utama adalah berkorban harta kita.
Jika hanya untuk membalas sms, kita rela keluar malam-malam dan hujan untuk membeli pulsa, maka untuk sebuah dream, goal kita yang tinggi dan besar di depan sana, kita mestinya lebih mau berkorban, harta,diri pribadi kita, termasuk waktu yang diberikan kepada kita. Sebab tanpa pengorbanan, tidak akan ada yang bisa kita peroleh dari semua dream kita, yang ada hanyalah angan-angan kosong tentang sebuah kenyataan. “(Luqman berkata): “Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui. ” ” (QS31, Luqman:16)

3. Pastikan kita mau belajar, mau diajar, dan mau mengajar.
Tiga hal itu harus ada pada diri kita, mandiri dalam belajar, mau membuka akal dan pikiran untuk dapat menyingkap dan mengetahui rahasia dan keajaiban alam semesta, di setiap tempat dan di setiap waktu, pastikan kita mau belajar. Lebih baik lagi jika kita selalu menyiapkan buku kecil dan alat tulis, untuk mencatat segala apa yang kita temukan dari gagasan yang muncul, seperti yang telah dilakukan oleh orang-orang sukses.
Mau diajar dari siapapun yang mempunyai sesuatu yang tidak kita punya. Jangan kita seperti iblis laknatullah yang mentang-mentang, “aku KAU suruh sujud hormat pada dia (Adam a.s.), nggak, aku lebih baik dari dia, aku KAU ciptakan dari api, sedangkan dia ENGKAU ciptakan dari tanah” yang menjadikan iblis dilaknat ALLAH dan menjadi penghuni neraka. Senada dengan itu, ketika seseorang menyatakan “mau ajar aku, hah, kamu mau ajar aku, kamu itu apa, aku lebih banyak makan garam daripada kamu makan nasi, mau ajar saya”. Jika demikian adanya maka jelas tidak akan bisa untuk sukses, plus sikap sombong ini sangat dibenci oleh ALLAH SWT. “Allah berfirman: “Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?” Menjawab iblis “Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah.” ” (QS7, Al A’raaf:12)
Ketika kita melihat teman atau sahabat menemui sebuah kesulitan dan dia tidak mengetahui bagaimana pemecahannya, bahkan sampai dia meminta penjelasan kepada kita, maka sudah sepatutnya kita mau mengajari mereka, disamping nilai kebaikan yang kita dapatkan, maka saat kita mengajarkan sesuatu pada orang lain, berarti kita sudah menuliskan hal yang kita ajarkan berlipat ganda di otak kita.

B. adalah untuk Believe (yakin, percaya)
Sebuah keyakinan harus kita tanamkan pada diri kita yang sudah memiliki dan mencanangkan sebuah dream, goal, destination.

1. Percaya dan Yakin kepada ALLAH SWT
Inilah hal pertama yang mesti kita punyai, sebuah keyakinan bahwa ALLAH tidak akan menyia-nyiakan usaha hamba-NYA. Setiap butir kebaikan, walaupun sangat-sangat kecil, dan berada di dalam batu hitam atau di dalam bumi, baik berupa kebaikan ataupun keburukan, maka ALLAH pasti mendatangkan hasilnya, memberikan balasannya, balasan pahala dan kebahagiaan untuk kebaikan, dan siksa dan kesengsaraan dari dosa perbuatan buruk yang dilakukan. “Maka Tuhan mereka memperkenankan permohonannya (dengan berfirman): “Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki atau perempuan, (karena) sebagian kamu adalah turunan dari sebagian yang lain. Maka orang-orang yang berhijrah, yang diusir dari kampung halamannya, yang disakiti pada jalan-Ku, yang berperang dan yang dibunuh, pastilah akan Ku-hapuskan kesalahan-kesalahan mereka dan pastilah Aku masukkan mereka ke dalam surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, sebagai pahala di sisi Allah. Dan Allah pada sisi-Nya pahala yang baik.”" (QS3, Ali ‘Imran:195)

2. Percaya kepada diri sendiri.
Jika kita sudah yakin dan percaya kepada ALLAH, maka hal selanjutnya yang harus kita punyai adalah percaya pada diri sendiri. Kita harus mengusahakan dengan sekuat tenaga untuk menggapaii dream, goal kita. Sebab ALLAH tidak akan pernah menurunkan hujan emas dari langit, tetapi ALLAH menurunkan air hujan, yang selanjutnya menumbuhkan tanaman yang sangat bermanfaat dalam hidup kita. ALLAH tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga kaum itu sendiri yang mengubah keadaannya sendiri. “Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS13, Ar Ra’d:11)

C. adalah untuk Commit (komitmen)
Komitmen bukan hanya sekedar janji-janji palsu. Komitmen merupakan suatu janji pada diri sendiri walau bagaimanapun dan apapun kondisi atau keadaannya, akan sungguh-sungguh ditepati. Itu adalah perwujudan dari kalimat insyaALLAH, jika ALLAH menghendaki. kalimat ini berarti 99,99% harus kita tempuh dengan kesungguhan, hanya sekian persen sebagai batas akhir tentang keputusan ALLAH.
Jika kita telah berusaha dengan sekuat tenaga dan semaksimal mungkin, maka akhir dari segala usaha itu adalah memasrahkan hasil akhir kepada ALLAH sebagai kepastian terakhirnya. “Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah dan nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu. Dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS64, At Taghaabun:16)

Guru Butuh Pelatihan, Bukan Sertifikasi

BANDUNG–Sertifikasi guru yang tidak berdampak pada peningkatan kualitas mengajar guru, ternyata sudah diprediksi oleh pakar pendidikan sebelum program tersebut digulirkan.

Adalah Pakar Pendidikan dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, Said Hamid Hasan yang pernah mengungkap sinyalemen itu. Menurut Said, dari awal dirinya sudah menyatakan sertifikasi tidak akan berdampak pada peningkatan kualiatas.

”Sertifikasi itu secara konsep memang salah dan hanya menghabiskan uang,” ujar Said kepada Republika, Selasa (12/1).Said menilai apa yang disertifikasikan oleh pemerintah sebenarnya dilapangan sudah dimiliki oleh guru.

Karena, porto folio sertifikasi itu merupakan pengakuan kemampuan yang sudah dimiliki guru. Guru yang mengajar, sudah memiliki akta untuk mengajar tapi harus punya sertifikat lagi. ”Secara konsep sertifikasi memang keliru kalau dikatkan peningkatan kualiatas. Sertifikasi dihentikan saja. Guru-guru kan sudah ada akta mengajar,” katanya.

Kalau pemerintah ingin guru di Indonesia memiliki kemampuan tertentu, sambung Said, tidak perlu dikaitkan dengan sertifikasi. Sebaiknya, guru diberikan pelatihan. Setelah menyelesaikan pelatihan itu, baru diberikan sertifikat yang sesuai dengan apa yang sudah dilatihkan.

Untuk meningkatkan kualitas guru, kata dia, setiap saat mereka harus diberi pelatihan. Terutama, setiap ada kempauan baru yang harus mereka kuasai. Karena hal itu, kata dia, sudah menjadi kewajiban pemerintah untuk memberikan profesional development atau pengembangan profesi. ”Kalau perlu setiap satu tahun sekali, guru diberikan pelatihan yang harus diikuti oleh setiap guru,” ujarnya.

Selama ini, kata dia, untuk memenuhi persyaratan sertifikasi beberapa guru ada yang asal mengikuti seminar hanya untuk memperoleh sertifikatnya. Hal itu wajar, kata dia, karena mereka memang tidak dirancang utk mengikuti seminar. Kalau sekarang mereka tidak punya sertifikat seminar dan berbondong-bondong mencari sertifikat seminar, itu bukan salah mereka.

Karena program sertifikasi guru ini sudah berjalan, kata dia, kalau akan dihapuskan pemerintah harus mengambil langkah untuk menghilangkan kesenjangan antara guru yang sudah memiliki sertifikasi dan tidak. Salah satu cara yang bisa ditempuh, kata dia, semua guru yang sudah bergelar S1 dan memiliki akta mengajar, sebaiknya memperoleh hak sesuai dengan sertifikat guru yang sudah disertifikasi. ”Untuk guru yang belum S1 sebaiknya diberikan program masuk S1. Kalau tidak memiliki akta mengajar, harus menempuh program akta itu dulu,” tegas Said. (Republika)

Mendiknas : Kualitas Ujian Nasional Akan Terus Ditingkatkan

MEDAN–Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Mohammad Nuh, mengatakan, kualitas Ujian Nasional (UN) dari tahun ke tahun akan terus diperbaiki hingga tercapai suatu metode yang ideal.

“Yang namanya metode itu selalu saja terus menerus terbuka untuk selalu diperbaiki, begitu juga dengan UN akan terus mengalami perbaikan hingga tercapai keidealan seperti yang kita harapkan,” katanya di Medan, Selasa.

Ia mengatakan, ada beberapa langkah yang akan terus diperbaiki pelaskanaan UN tersebut, seperti misalnya kualitas soal ujian yang semakin baik, begitu juga dengan kualitas pelaksanaannya yang juga akan kian membaik.

Kualitas soal harus mencerminkan tingkat kedalaman materi yang disesuaikan dengan kenyataan bahwa ada variasi kualitas di sekolah-sekolah. Jangan sampai soal yang diujikan tersebut hanya mencerminkan kedalaman materi saja, padahal variasi kualitas sekolah sangat beragam.

Dari sisi pelaksanaan, mulai dari percetakan soal benar-benar diyakinkan dan dipastikan tidak akan ada kebocoran. Begitu juga pada saat pendistribusian soal ke sekolah-sekolah dan pada pelaksanaan hari ujian benar-benar diusahakan bebas dari usaha kecurangan. “Semua pihak akan dilibatkan dalam usaha-usaha memperkecil usaha kecurangan tersebut baik kepolisian, maupun pengawas dari perguruan tinggi,” katanya.

Demikian halnya dengan guru pengawas ujian tidak boleh dari sekolah itu sendiri, kalau tadinya guru dari sekolah A mengawasi di sekolah B dan guru sekolah B mengawasi di sekolah A, kalau sekarang tidak lagi karena seperti itu dikhawatirkan akan terjadi kerja sama di antara guru dari kedua sekolah.

Sekarang, katanya, guru dari sekolah A mengawas di sekolah B dan guru sekolah B mengawas sekolah C dan begitu seterusnya. Jadi rantainya semakin diperpanjang. “Demikian juga keterlibatan perguruan tinggi yang dijadikan sebagai pemantau dan pengawas independen,” katanya.

Lebih lanjut Mendiknas mengatakan, yang tidak kalah penting adalah evaluasi setelah UN usai dilaksanakan. Evaluasi jangan sampai hanya sekedar untuk menentukan lulus tidaknya siswa, tapi justru hasil evaluasi tersebut harus digunakan untuk pemetaan.

Hasil pemetaan tersebut untuk selanjutnya akan digunakan sebagai intervensi kebijakan. Misalnya, dari hasil evaluasi diketahui di suatu kota nilai yang rendah itu adalah matematika maka selanjutnya guru-guru matematika dari kota itu akan di “up-grading”.

“Atau dari hasil evaluasi tersebut rendahnya nilai siswa karena minimnya infrastruktur, maka ke depannya di daerah tersebut akan diupayakan penambahan infrastruktur seperti fasilitas laboratorium, penambahan ruang kelas,” katanya. (Republika)

Yes We Can Do It

Renungan Ayat:

Mereka menjawab: ” Berdoalah kepada Tuhanmu untuk Kami, agar Dia menerangkan kepada kami; sapi betina Apakah itu.” Musa menjawab: “Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang tidak tua dan tidak muda; pertengahan antara itu; Maka kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu”.
Mereka berkata: “Berdoalah kepada Tuhanmu untuk Kami agar Dia menerangkan kepada Kami apa warnanya”. Musa menjawab: “Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang kuning, yang kuning tua warnanya, lagi menyenangkan orang-orang yang memandangnya.”
Mereka berkata: “Berdoalah kepada Tuhanmu untuk Kami agar Dia menerangkan kepada Kami bagaimana hakikat sapi betina itu, karena Sesungguhnya sapi itu (masih) samar bagi Kami dan Sesungguhnya Kami insya Allah akan mendapat petunjuk (untuk memperoleh sapi itu).” (QS. Al-Baqarah: 68-70)

Suka Nyulitin Diri
Coba lihat ayat diatas tampak dialog antara Nabi Musa as dengan bangsa Yahudi, betapa mereka suka mempersulit diri. Padahal ketika Allah Swt menyuruh mereka menyembelih sapi dan langsung menyembelihnya saat itu juga, tentulah Allah tidak akan marah. Mereka malah terus bertanya sapi yang manalah, warna apalah.
Jika ada yang menawarkan kita, ke rumah saya yuk, hari minggu ada pengajian…jawab langsung… Insya Allah saya datang!!!! Meskipun ketika waktunya tiba kita sibuk lah atau berhalangan hadir..nggak apa asal buka disengaja.
Coba kalau kita jawab.. eehh ntar yah…ennghh kalau nggak sibuk…Saya lihat jadwal dulu yah…!!!
Kalau kita mempersulit apa saja meskipun yang sepele sekalipun, tentulah semuanya akan terasa sulit dan berat. Apalagi jika dikaitkan dengan Islam pastilah jika hati atau akal susah diajak kompromi karena dianggap berat, susah apalagi kalau yang datang malas dan lesu.
Lihat Yahudi di ayat atas, mereka terus mengeluh, merintih meskipun banyak nikmat yang mereka rasakan. Pantaslah Allah Swt murka terhadap mereka.

Katakan Aqu Bisa
Ketika kita lihat ada orang yang rajin membaca Qur’an…jangan bilang.. Susah yah kayak gitu!!!… pastilah perbuatan itu akan susah. Tapi bilang… kenapa gue kagak bisa…dia aja bisa kenapa saya tidak!!!. Mudahkan semuanya Insya Allah semuanya mudah. Ketika ada orang bersedekah 1 juta, jangan bilang.. Wah hebat euy…gue sih masih kagak bisa..!!meskipun dananya berlebih. Bilang saja.. …. Saya bisa dan sekarang saya kasih 2 Jutameskipun kita merasa berat mengelurakannya. Pasti ada fase dimana hati dan akal mulai memberi keringanan pada tubuh yang tadinya sulit dikompromikan. Yang paling parah sudah nggagap sulit terus ngomongnya jelek lagi… Ufh Sombong…mentang-mentang punya duit… artinya suka usil lihat orang..semua dikomentari.
Lakukan kebaikan saat ini juga, detik ini juga, menit ini juga, hari ini juga kalau terlintas kebaikan dan taat dalam hati kita. Taat dan kesempatan akan sirna manakala kita menganggap semuanya berat dan sulit.
Bahagia, ketenangan batin, penyelesaian masalah, adem ati pastilah dimiliki oleh orang yang mampu mengambil kesempatan dalam taat seketika itu juga….

Allahumma Sahilna fi Umurina, Allahumma tsabit qolbi ‘ala dinika
Ya Allah mudahkan urusan kami, Ya Allah tetapkan hatiku pada agama MU.

Tahun Baru



Selamat Tahun Baru 1431 H / 2010 M


[QS57, Al Hadiid:16] Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.

klik disini

Curhat alumnus

Assalamualaikum,

Abi yang saya hormati, ijinkanlah mantan murid-mu ini untuk mengucapkan banyak terima kasih kepada semua guru & karyawan Smancar terutama kepada Abi. Berkat bimbingan dan didikan semua guru di smancar saya dapat melanjutkan pendidikan di Unej tepatnya jurusan keperawatan. Apalagi saya diterima melalui jalur SNMPTN yang terkenal dengan persaingannya yang ketat. Yang di unej tidak saya saja masih ada alumnus smancar 08/09 yang lain, diantaranya Soni, Rega, Tika, Fibri, Nindi & Festy.

Kurasa mulai sekarang benih-benih yang ditabur Abi mulai berkecambah dan tinggal menunggu waktu sampai benih-benih tersebut tumbuh menjadi pohon-pohon yang meneduhkan. Pohon yang rindang dengan daun-daun yang selalu menyerap ilmu untuk diamalkan, ranting-ranting yang yang terus berkembang untuk memperbesar dan memperluas pandangan dan wawasan. Semua itu selalu terjaga karena ditopang oleh batang yang kokoh dengan ilmu agama, semua tak tergoyahkan dengan akar keimanan yang tertancap kuat pada bumi. Mungkin pertumbuhan benih-benih tersebut tidak bersamaan itu tergantung pada tempat benih itu jatuh. Satu hal yang pasti seluruh benih tersebut akan tumbuh subur karena yang menaburnya sudah yakin benih tersebut akan tumbuh subur menghijaukan nusantara dengan ilmu yang dibawanya.

Rajawali ternyata sudah pergi direlakan mencari jalannya sendiri di langit yang luas. Setelah sekian lama diasuh, sekarang saatnya rajawali menghadapi kehidupan nyata. Selama tiga tahun saya menempuh pendidikan di smancar selama itu pulalah saya berada dibawah bimbingan Abi. Tapi mulai saat ini saya berjuang sendirian untuk menentukan jalan hidup saya. Hal ini tidak jauh berbeda dengan yang lain, semua sedang mencari jalan hidupnya masing-masing.

Abi taburlah terus benih-benih yang berkualitas yang mampu bersaing di era globalisasi dengan tetap pada kaidah agama islam. Saya terus menunggu segala berita dari FKI yang membuat hati kita selalu damai. Untuk benih yang akan ditabur saya akan selalu merawatnya sebagai tanda terima kasih saya. Kami seluruh alumnus SMANCAR yang ada di jember siap membantu alumnus-alumnus berikutnya. Lewat ini saya kabarkan bahwa alumnus SMANCAR mulai diperhitungkan oleh semua orang. Hal ini dapat ditingkatkan dengan input yang bermutu, pendidikan yang berkualitas dan penegakan aturan.

Sekali lagi saya ucapkan banyak terima kasih kepada SMAN 1 MUNCAR, khususnya Abi. Do’a-kan terus muridmu supaya dapat meraih kesuksesan.

Jaya terus SMANCAR. Majulah SMANCAR-Ku jangan pernah kau ragu!!!!!

Standar Kompetensi Lulusan (SKL) UN 2010

Tidak perlu risaukan UN (Ujian Nasional) 2010. Apakah tetap akan diadakan ataukah ditiadakan, maka tugas pelajar adalah belajar, dan tugas pembelajar adalah menyampaikan, menjadi fasilitator, dalam proses belajar.

Dan niat harus ditata ulang. Sekolah bukan untuk sekedar mencari ijasah untuk melamar kerja. Tapi, sekolah adalah menjalankan perintah ALLAH SWT untuk menuntut ilmu, mencari ilmu untuk mengetahui tata aturan hukum ALLAH dialam ini. Karena yang takut kepada ALLAH hanyalah orang yang berilmu. Tanpa ilmu tidak akan ada rasa takut kepada ALLAH SWT.

Kalau hanya untuk UN (Ujian Nasional) 2010, maka cukup hanya menguasai Standar Kompetensi Lulusan (SKL) yang sudah ada dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas) Nomor 75 Tahun 2009.

Bagaimana bunyi Standar Kompetensi Lulusan (SKL) itu ?
silahkan klik link berikut untuk membaca;

Lampiran-Permendiknas-Nomor-75-Tahun-2009-2010

sedangkan untuk download, cukup klik disini

Persiapkan diri dari saat ini

UN (Ujian Nasional) tidak bisa ditunda lagi. Semua perangkat sudah disiapkan dengan sedemikian rupa. Maka bagi kita tidak ada jalan lain kecuali semua stage holder sekolah saling bahu membahu untuk suksesnya UN 2009-2010.

Apa yang harus kita persiapkan ?

Tentunya, semua bekal, dari bagaimana memenej waktu dan kehidupan kita, menghilangkan segala aktifitas yang tidak berguna, serius dalam berpikir saat belajar, memfokuskan segala daya, dan yang tidak boleh terlupa adalah selalu mohon kepadaNYA.

SKL (Standar Kompetensi Lulusan) harus kita pegang, dan kita jadikan sebagai pijakan dalam semua proses dan kegiatan belajar mengajar. Berikut ini SKL yang harus kita jadikan pedoman.

Lampiran-Permendiknas-Nomor-75-Tahun-2009-2010

Akhirnya selamat berjuang semoga sukses bisa kita raih untuk UN 2009-2010.

NEVER GIVE UP

GET DICIPLINE GO DIAMOND

Untuk download klik disini

Selamat Hari Raya Idul Fitri

Adab Dalam Berkomunikasi

Adab Sebagai Pembicara

1. Pikirkanlah dahulu isi pembicaraan sebelum mengeluarkan posting/pembicaraan. Postingan/pembicaraan sebaiknya selalu di dalam hal kebaikan atau bermanfaat, bukanlah hal yang SIA-SIA

Allah berfirman yang artinya,

“Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisik-bisikan mereka, kecuali bisik-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah atau berbuat ma`ruf atau mengadakan perdamaian di antara manusia”

(An-Nisa: 114)

Rasulullah shollallahu wa sallam bersabda :

“Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah dia berkata baik atau diam” (Riwayat Bukhori dan Muslim)

2. Dilarang keras menghina Alloh, Agama-Nya (termasuk syari’at-syari’at didalamnya), Malaikat-Nya, Kitab-Nya, Rosul-Nya dan segala hal yang berhubungan dengan diin ini, walaupun hanya sebatas bercanda.

Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentu mereka akan menjawab:”Sesungguhnya kami hanya bersenda gurau dan bermain-main saja”. Katakanlah:”Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?”. * Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman. (QS. at_Taubah:65-66)

3. Berbicara (dalam perkara agama) harus BERLANDASKAN ILMU

Dan sabda Rasulullah (ﷺ): “Barang siapa berbicara tentang al Qur’an dengan akal-nya atau tidak dengan ilmu, maka hendaklah ia menyiapkan tempatnya di neraka”

(Hadist seperti ini ada dari 2 jalan, yaitu Ibnu Abas dan Jundub. Lihat Tafsir Qur’an yang diberi mukaddimah oleh Syeikh Abdul Qadir Al-Arnauth hal. 6, Tafsir Ibnu Katsir dalam Mukaddimah hal. 13, Jami’ As-Shahih Sunan Tirmidzi jilid 5 hal.183 no. 2950 dan Tuhfatul Ahwadzi jilid 8 hal. 277).

4. Jangan membicarakan sesuatu yang tidak berguna.

Rasulullah shollallahu wa sallam bersabda :

“Termasuk baiknya Islam seseorang adalah ia meninggalkan sesuatu yang tidak berguna baginya”

(HR. Ahmad dan Ibnu Majah)

5. Bicaralah hanya secukupnya dan sesuai topik pembicaraan.

Rasulullah shollallahu alaihi wa sallam bersabda;

“Janganlah kamu membicarakan semua apa yang kamu dengar. Cukuplah menjadi suatu dosa bagi seseorang apabila ia membicarakan semua apa yang telah ia dengar”

(HR. Muslim).

6. Hindarilah perdebatan dan saling membantah.

Sekalipun berada di pihak yang benar dan menjauhi perkataan dusta sekalipun bercanda.

Rasulullah shollallahu alaihi wa sallam bersabda,

“Aku menjadi penjamin sebuah istana di taman Surga bagi siapa saja yang menghindari perdebatan sekalipun ia benar; dan penjamin istana di tengah-tengah Surga bagi siapa saja yang meninggalkan dusta sekalipun bercanda.”

(HR. Abu Daud dan dinilai hasan oleh Al-Albani).

7. Hindarilah perkataan jorok (keji).

Rasulullah shollallahu alaihi wa sallam bersabda,

Bukankah seorang mukmin (jika ia) pencela, pengutuk atau yang keji pembicaraan-nya.

(HR. Al-Bukhari di dalam Al-Adab Al-Mufrad, dan dishahihkan oleh Al-Albani).

8. Hindari prasangka-prasangka buruk

Allah berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka , karena sebagian dari prasangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.

(QS Al-Hujurat:12)

9. Hindari sikap memaksakan diri dan banyak omong di dalam berbicara.

Hadits Jabir radhiallahu anhu menyebutkan,

“Sesungguhnya manusia yang paling aku benci dan yang paling jauh dariku di hari Kiamat kelak adalah orang yang BANYAK BICARA, orang yang BERPURA-PURA FASIH dan ORANG-ORANG MUTAFAIHIQUN”. Para shahabat bertanya,”Wahai Rasulllah, apa arti mutafaihiqun?” Nabi menjawab, “Orang-orang yang sombong”.

(HR. At-Turmudzi, dinilai hasan oleh Al-Albani).

10. Hindari ghibah (menggunjing) dan fitnah (berita bohong

Sesuai dengan hadith dibawah ini:

Dari Abu Daud : Nabi( ﷺ) bersabda :

Tahukah kamu apa ghibah itu ?

Jawab sahabat : Allahu warasuluhu a’lam (Allah dan Rasulullah yang lebih tahu)

Kemudian Nabi ( ﷺ) bersabda: Menceritakan hal saudaramu yang ia tidak suka diceritakan pada orang lain.

Lalu Sahabat bertanya: Bagaimana jika memang benar sedemikian keadaan saudaraku itu ?

Jawab Nabi ( ﷺ): “Jika benar yang kau ceritakan itu, maka itulah ghibah, tetapi jika tidak benar ceritamu itu, maka itu disebut buhtan (tuduhan palsu,fitnah) dan itu lebih besar dosanya”.

(HR. Muslim)

11.Hindari perkataan kasar, dan ucapan yang menyakitkan perasaan serta tidak mencari-cari kesalahan dari kekeliruan pembicaraan orang lain.

Karena hal tersebut dapat mengundang kebencian, permusuhan dan pertentangan.Seperti: Mengafirkan, menuduh fasik, menuduh ahlul-bid’ah (padahal bisa saja dia tidak mengetahui kebid’ahan yang dilakukannya), memvonis celaka dan sumpah palsu.

12. Hindari sikap mengejek, memperolok-olok dan memandang rendah orang yang berposting

Allah berfirman yang artinya,

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olokkan kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olokkan), dan jangan pula wanita-wanita(mengolok-olokkan) wanita-wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita(yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olokkan)”

(Al-Hujurat: 11)

13. Jangan bersumpah selain dengan nama Allah

Diriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Umar ra, bahwasanya Rasulullah bertemu dengan‘Umar bin al-Khaththab ra yang sedang berjalan bersama rombongan, beliau mendengarnya bersumpah atas nama ayahnya. Rasulullah bersabda: “Ketahuilah, sesungguhnya Allah melarang kalian bersumpah dengan nama bapak-bapak kalian. Barangsiapa bersumpah,hendaklah ia bersumpah dengan nama Allah atau sebaiknya ia diam.”

(HR. Bukhari : 6646 dan Muslim : 1646)

14. Jangan mencaci dan menyalahkan masa, terutama kepada kaum muslimin

Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a., dari Rasulullah ., bahwa beliau bersabda (artinya), “Allah azza wa jalla berfirman, ‘Ibnu Adam telah menyakiti-Ku! Mereka berkata,’Duhai sialnya masa!’ Janganlah mengatakan: ‘Duhai sialnya masa,’ sebab Aku-lah Pencipta masa, Aku-lah yang membolak-balikkan siang dan malam.Sekiranya Aku berkehendak, niscaya Aku akan menggenggam keduanya (yakni menahan siang dan malam)!’”

(HR Bukhari [4826] dan Muslim [2246])Dalam riwayat lain disebutkan, “Mereka memaki masa.”)

15.Menghindari dusta

Berdasarkan hadits Rasulullah ( ﷺ) : “Tanda-tanda munafik itu ada 3, jika ia bicara berdusta, jika ia berjanji mengingkari dan jika diberi amanah ia khianat.”

(HR Bukhari)

16. Menghindari banyak bercanda

Berdasarkan hadits Rasulullah ( ﷺ):

“Binasalah orang yang berbicara untuk membuat orang-orang tertawa dengan ucapannya, lalu dia berdusta. Binasalah dia, binasalah dia!”

(HR. At-Tirmidzi no. 2315, dihasankan oleh Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi)

Yang dimaksudkan disini adalah pembicaraan yang mengajak kepada candaan yang berlebihan (terlebih lagi berbohong dengan perkataan dusta atau menceritakan hal yang tidak pernah ada/terjadi). Bukan yang dimaksudkan adalah bercanda dalam rangka menghibur, karena Rosulullah sendiri pernah bercanda dengan keluarga dan shohabat-shohabatnya.

17. Menghindari menceritakan aib orang

Berdasarkan QS. Al-Hujurat ayat 11-12, juga dalam hadits nabi (ﷺ): “Jika seorang menceritakan suatu hal padamu lalu ia pergi, maka ceritanya itu menjadi amanah bagimu untuk menjaganya.”
(HR Abu Daud dan Tirmidzi)

18. Tidak memanggil dengan panggilan yang buruk

“dan janganlah melakukan tanabuz (memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan). seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman, dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zhalim”. (QS. Al-Hujuraat: 11)

19. Tidak mengadu domba

Dalam sebuah hadits marfu’ yang diriwayatkan Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu disebutkan,

“Tidak akan masuk surga bagi Al Qattat (tukang adu domba).” (HR. Al Bukhori)

20. Menghindari Qila wa Qol (kata si fulan)

Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu,bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya:

“Sesungguhnya Allah meridhai kalian pada tiga perkara dan membenci kalian pada tiga pula.

Allah meridhai kalian bila kalian:
1. Hanya menyembah Allah semata,
2. dan tidak mempersekutukannya,
3. serta berpegang teguh pada tali (agama) Allah seluruhnya, dan janganlah kalian berpecah belah.

Dan Allah membenci kalian bila kalian:
1. Suka qila wa qala (berkata tanpa berdasar, hanya bermodalkan “kata orang”),
2. Banyak bertanya (yang tidak berfaedah, mengajak debat, menguji ilmu dll.),
3. serta menyia-nyiakan harta”

(HR. Muslim no. 1715)

Adab Sebagai Pendengar

1. Diam dan memperhatikan (QS 50/37)
2. Tidak memotong/memutus pembicaraan
3. Menghadapkan wajah pada pembicara dan tidak memalingkan wajah darinya sepanjang sesuai dengan syariat (bukan berbicara dengan lawan jenis)
4. Tidak menyela pembicaraan saudaranya walaupun ia sudah tahu, sepanjang bukan perkataan dosa.
5. Tidak merasa dalam hatinya bahwa ia lebih tahu dari yang berbicara

Adab Menolak atau Tidak Setuju

1. Ikhlas dan menghindari sifat senang menjadi pusat perhatian
2. Menjauhi ingin tersohor dan terkenal
3. Penolakan harus tetap menghormati dan lembut serta tidak meninggikan suara
4. Penolakan harus penuh dengan dalil dan taujih
5. Menghindari terjadinya perdebatan sengit
6. Hendaknya dimulai dengan menyampaikan sisi benarnya lebih dulu sebelum mengomentari yang salah
7. Penolakan tidak bertentangan dengan syariat
8. Hal yang dibicarakan hendaknya merupakan hal yang penting dan dapat dilaksanakan dan bukan sesuatu yang belum terjadi
9. Ketika menolak hendaknya dengan memperhatikan tingkat ilmu lawan bicara, tidak berbicara di luar kemampuan lawan bicara yang dikuatirkan menjadi fitnah bagi diri dan agamanya
10. Saat menolak hendaknya menjaga hati dalam keadaan bersih, dan menghindari kebencian serta penyakit hati.

Sumber: belajarislam.or.id