<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>SMAN 1 MUNCAR</title>
	<atom:link href="http://sman1muncar.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://sman1muncar.wordpress.com</link>
	<description>Always change to be perfect.</description>
	<lastBuildDate>Mon, 05 Dec 2011 15:00:40 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='sman1muncar.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>SMAN 1 MUNCAR</title>
		<link>http://sman1muncar.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://sman1muncar.wordpress.com/osd.xml" title="SMAN 1 MUNCAR" />
	<atom:link rel='hub' href='http://sman1muncar.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Berubah Itu Langkah Demi Langkah</title>
		<link>http://sman1muncar.wordpress.com/2011/12/05/berubah-itu-langkah-demi-langkah/</link>
		<comments>http://sman1muncar.wordpress.com/2011/12/05/berubah-itu-langkah-demi-langkah/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 Dec 2011 15:00:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sman1muncar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Motivation]]></category>
		<category><![CDATA[Thinking]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sman1muncar.wordpress.com/?p=397</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;BERUBAH&#8221;. Banyak orang yang ingin berubah. Namun dia merasakan begitu sulit berubah. Apa penyebabnya? Anda pernah membaca artikel Bisakah Memakan Sepeda? Saat pertanyaan ini diajukan kepada peserta pelatihan, jawabannya macam-macam. Banyak yang mengatakan tidak mungkin. Bagaimana bisa memakan sepeda? Mereka anggap hanya bercanda. Padahal, orang yang memakan sepeda bukan fiktif bukan juga bercanda. Ini benar, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sman1muncar.wordpress.com&amp;blog=7652152&amp;post=397&amp;subd=sman1muncar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&#8220;BERUBAH&#8221;. Banyak orang yang ingin berubah. Namun dia merasakan begitu sulit berubah. Apa penyebabnya?</p>
<p>Anda pernah membaca artikel Bisakah Memakan Sepeda?</p>
<p>Saat pertanyaan ini diajukan kepada peserta pelatihan, jawabannya macam-macam. Banyak yang mengatakan tidak mungkin. Bagaimana bisa memakan sepeda? Mereka anggap hanya bercanda.</p>
<p>Padahal, orang yang memakan sepeda bukan fiktif bukan juga bercanda. Ini benar, adanya tercatat di Guiness Book of Record. Bahkan katanya, sudah terpecahkan oleh orang yang memakan Harley Davidson. Wow!</p>
<p>Bagaimana bisa? Inilah kuncinya. Ini adalah kunci yang bisa membuat perbedaan sangat mendasar. Pemahaman inilah yang menjadikan seseorang menjelma menjadi orang hebat atau tidak. Inilah rahasia berubah!<br />
<span id="more-397"></span><br />
Rahasia Berubah Itu Langkah Demi Langkah</p>
<p>Orang bisa memakan sepeda, bahkan Harley Davidson, karena mereka memakannya secara bertahap. Pemakan sepeda memotong-motong sepedanya, bahkan dihancurkan, kemudian dimakan sedikit demi sedikit. Akhirnya dia bisa menghabiskan sepeda (masuk ke dalam perutnya) dalam waktu 3 bulan.</p>
<p>Lama? Iya, memang lama. Tetapi berhasil. Jika sepeda hanya pelototi saja. Jika kita hanya memikirkan bagaimana cara makan sepeda sekaligus, kita bisa menyerah. Langsung saja kita mengatakan: “Mustahil!”</p>
<p>Begitu juga dalam berubah. Jika Anda ingin menjadi seseorang yang lebih baik, mulailah berubah. Langkah demi langkah, jangan berpikir sekaligus. Saat kita berpikir bahwa kita harus berubah sekaligus, meski mulut tidak berucap, pikiran bawah sadar kita akan mengatakan itu mustahil. Apa akibatnya? Dia tidak mengambil langkah untuk berubah.</p>
<p>Bagaimana kita bisa menghafal Al Quran? Bukankah banyak sekali? Para penghafal Al Quran menghafal ayat demi ayat, bahkan bisa jadi satu ayat pun di potong-potong dulu agar mudah menghafalnya.</p>
<p>Berubah itu selangkah demi selangkah. Sama seperti Anda makan, sesuap demi sesuap.</p>
<p>Berubah Sedikit Tetapi Kontinyu</p>
<p>Sepotong demi sepotong, sepeda pun habis dimakan. Selangkah demi selangkah, para pelari marathon pun bisa melalui puluhan kilo meter. Putaran demi putaran ban mobil Anda, ratusan kilo meter pun bisa ditempuh.</p>
<p>Jangan anggap sepele perubahan yang kecil atau sedikit. Jika dilakukan secara kontinyu, akan membawa perubahan besar dalam hidup Anda. Seorang trainer (Wiwoho) pernah mengatakan Kesuksesan besar adalah kasil dari kumpulan kesuksesan-kesuksesan kecil.</p>
<p>Rasulullah saw, dengan indah bersabda:</p>
<p>Amalan-amalan yang paling disukai Allah ialah yang lestari (langgeng atau berkesinambungan) meskipun sedikit. (HR. Bukhari)</p>
<p>Lakukanlah perubahan itu, meski pun kecil, sebab tidak ada yang kecil jika kita melakukan secara terus menerus, langkah demi langkah.</p>
<p>Siap-siap…. berubah!</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sman1muncar.wordpress.com/397/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sman1muncar.wordpress.com/397/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sman1muncar.wordpress.com/397/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sman1muncar.wordpress.com/397/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sman1muncar.wordpress.com/397/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sman1muncar.wordpress.com/397/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sman1muncar.wordpress.com/397/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sman1muncar.wordpress.com/397/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sman1muncar.wordpress.com/397/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sman1muncar.wordpress.com/397/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sman1muncar.wordpress.com/397/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sman1muncar.wordpress.com/397/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sman1muncar.wordpress.com/397/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sman1muncar.wordpress.com/397/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sman1muncar.wordpress.com&amp;blog=7652152&amp;post=397&amp;subd=sman1muncar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sman1muncar.wordpress.com/2011/12/05/berubah-itu-langkah-demi-langkah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0450fa37442063155eb2dbdc55681f2c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sman1muncar</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Para Pendidik Akhlak Mulia</title>
		<link>http://sman1muncar.wordpress.com/2011/06/29/para-pendidik-akhlak-mulia/</link>
		<comments>http://sman1muncar.wordpress.com/2011/06/29/para-pendidik-akhlak-mulia/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 29 Jun 2011 01:53:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sman1muncar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Motivation]]></category>
		<category><![CDATA[Thinking]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sman1muncar.wordpress.com/?p=394</guid>
		<description><![CDATA[Pendidikan sebagai sebuah proses penanaman nilai-nilai, tidak terkecuali adalah pendidikan akhlak mulia, terdapat pihak-pihak yang berpengaruh secara signifikan. Mereka itu adalah para pemimpin di berbagai levelnya. Terdapat sebuah pepatah yang mengatakan bahwa, watak, perilaku, karakter atau akhlak sebuah masyarakat tergantung pada para pemimpinnya. Keadaan masyarakat pada hakekatnya adalah cermin dari siapa yang memimpinnya. Dalam level [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sman1muncar.wordpress.com&amp;blog=7652152&amp;post=394&amp;subd=sman1muncar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pendidikan sebagai sebuah proses penanaman nilai-nilai, tidak terkecuali adalah  pendidikan akhlak mulia, terdapat pihak-pihak yang berpengaruh secara signifikan. Mereka itu adalah para pemimpin di berbagai levelnya.  Terdapat  sebuah pepatah yang  mengatakan bahwa,  watak, perilaku, karakter atau akhlak sebuah masyarakat tergantung pada para pemimpinnya. Keadaan masyarakat pada hakekatnya adalah cermin dari  siapa  yang memimpinnya.</p>
<p>Dalam level  kecil, &#8212;&#8211;yaitu keluarga, ada  pepatah  Jawa mengatakan bahwa,  kacang panjang tidak pernah meninggalkan lanjarannya. Serupa dengan pepatah  itu,  juga terdapat pepatah lain yang mengatakan bahwa,  daun tidak pernah jatuh dari pohonnya.  Maka artinya bahwa.   sedemikian kuat pengaruh pimpinan keluarga terhadap watak, perilaku,  karakter, atau akhlak terhadap orang-orang yang berada di bawah asuhannya.<br />
<span id="more-394"></span><br />
Dalam lingkup yang lebih luas, pengaruh itu adalah datang dari para pemimpin, baik pemimpin formal maupun pemimpin non formal.  Para pemimpin formal yang dimaksudkan itu, mulai dari lingkup yang terkecil hingga yang tertinggi, yaitu kepala desa, camat, bupati, gubernur, menteri hingga presidennya sekalian. Sebagai pemimpin non formal adalah para pimpinan organisasi politik atau sosial, pemuka agama, dan lain-lain. Mereka itu semua sebenarnya adalah para guru pendidikan karakter atau akhlak mulia.</p>
<p>Para pemimpin, &#8212;&#8212;-sebagai orang timur,  tidak saja dianggap sebagai orang yang berwenang dan atau berkewajiban menyelesaikan persoalan-persoalan yang terkait dengan organisasi atau pemerintahan, melainkan perilakunya   dijadikan sebagai acuan atau refenrence person oleh masyarakat yang dipimpinnya. Lebih-lebih hal itu adalah masyarakat yang bersifat paternalistik, maka pemimpin selalu dijadikan kebanggaan dan sekaligus ditiru tentang  segala perilaku dan wataknya.</p>
<p>Oleh karena itu ketika akhir-akhir ini  mulai terjadi fenomena yang dirasakan menggelisahkan terkait dengan  watak dan atau karakter bangsa,  bahkan  disebut sudah semakin memprihatinkan, maka sebenarnya, adalah bersumber  dari para elitenya sendiri. Membanjirnya informasi yang sehari-hari  terjadi  seperti,   suap menyuap, korupsi, kolusi, nepotisme, berbagai jenis  mafia, penggunaan obat terlarang, konflik yang tidak pernah berhenti,  dan seterusnya,  yang dilakukan oleh para pemimpin di berbagai level, adalah merupakan kekuatan perusak moral, karakter, dan akhlak masyarakat.  </p>
<p>Selain itu, mungkin sebagian banyak  orang tidak menyadari bahwa hingar bingar politik dengan dalih pelaksanaan demokrasi, tetapi dilakukan secara transaksional, &#8212;&#8212;jual beli suara dan seterusnya,  sebenarnya adalah sangat membahayakan terhadap  perilaku, watak, karakter dan akhlak mulia yang seharusnya dibangun.  Mobilitas vertikal para pemimpin yang  diwarnai oleh transaksi-transaksi tersebut  akan menurunkan wibawa atau harkat martabat dari para pemimpin yang seharusnya dibangun secara kokoh. </p>
<p>Pemimpin yang tidak memiliki kewibawaan, akan berpengaruh  terhadap rendahnya watak atau akhlak masyarakat yang dipimpinnya. Sekalipun misalnya saja, pemimpin itu memiliki pengetahuan dan mungkin bisa menjalankan kepemimpinannya secara profesional, namun jika mereka tidak ditopang oleh karakter, atau akhlak yang mulia, maka kelebihan yang dimiliki,  tidak akan banyak memberikan makna yang sebenarnya. </p>
<p>Oleh karena itu maka sebenarnya, tatkala suatu bangsa akan memperbaiki watak, karakter atau akhlak, maka dalam tataran yang lebih makro, harus dimulai dari para pemimpinnya. Wujud dari pendidikan karakter adalah memperbaiki karakter pemimpinnya itu sendiri. Apapun yang dilakukan di lembaga pendidikan, namun jika para pemimpinnya masih selalu berorientasi pada perebutan kekuasaan, fasilitas, uang dan seterusnya,  maka usaha itu tidak akan berdampak apa-apa. </p>
<p>Karakter atau akhlak suatu  bangsa tergantung kepada para pemimpinnya. Jika karakter atau akhlak para pemimpinnya terbangun secara baik, maka masyarakatnya akan mengikutinya,  dan begitu pula sebaliknya. Oleh karena itu  guru dan pendidik karakter atau akhlak mulia pada hakeketnya adalah para pemimpinnya itu sendiri. Wallahu a’lam. </p>
<p>sumber:http://uin-malang.ac.id/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=2241:para-pendidik-akhlak-mulia&amp;catid=25:artikel-rektor</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sman1muncar.wordpress.com/394/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sman1muncar.wordpress.com/394/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sman1muncar.wordpress.com/394/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sman1muncar.wordpress.com/394/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sman1muncar.wordpress.com/394/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sman1muncar.wordpress.com/394/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sman1muncar.wordpress.com/394/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sman1muncar.wordpress.com/394/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sman1muncar.wordpress.com/394/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sman1muncar.wordpress.com/394/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sman1muncar.wordpress.com/394/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sman1muncar.wordpress.com/394/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sman1muncar.wordpress.com/394/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sman1muncar.wordpress.com/394/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sman1muncar.wordpress.com&amp;blog=7652152&amp;post=394&amp;subd=sman1muncar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sman1muncar.wordpress.com/2011/06/29/para-pendidik-akhlak-mulia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0450fa37442063155eb2dbdc55681f2c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sman1muncar</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mendidik Anak Agar Berkharakter</title>
		<link>http://sman1muncar.wordpress.com/2011/06/29/mendidik-anak-agar-berkharakter/</link>
		<comments>http://sman1muncar.wordpress.com/2011/06/29/mendidik-anak-agar-berkharakter/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 29 Jun 2011 01:50:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sman1muncar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Motivation]]></category>
		<category><![CDATA[Thinking]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sman1muncar.wordpress.com/?p=391</guid>
		<description><![CDATA[Akhir-akhir ini mulai dirasakan tentang pentingnya pendidikan karakter. Menteri Pendidikan Nasional dan juga menteri agama mengkampanyekan konsep itu. Bangsa Indonesia harus dibangun karakternya, sedangkan membangunnya, di antaranya melalui pendidikan. Oleh karena itu di mana-mana dibicarakan tentang pendidikan karakter itu. Banyak orang mengartikan pendidikan berbeda dengan pengajaran. Pendidikan memiliki pengertian lebih luas dan mendalam dari sebatas [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sman1muncar.wordpress.com&amp;blog=7652152&amp;post=391&amp;subd=sman1muncar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Akhir-akhir ini mulai dirasakan tentang pentingnya pendidikan karakter. Menteri Pendidikan Nasional dan juga menteri agama mengkampanyekan konsep itu. Bangsa Indonesia harus dibangun karakternya, sedangkan membangunnya,   di antaranya melalui pendidikan. Oleh karena itu di mana-mana dibicarakan tentang pendidikan karakter itu.</p>
<p>Banyak orang mengartikan pendidikan berbeda dengan pengajaran. Pendidikan memiliki pengertian lebih luas dan mendalam dari sebatas pengajaran. Pengajaran hanya sebatas  kegiatan memberikan seperangkat pengetahuan kepada siswa. Dalam pengajaran yang penting, bahwa para siswa yang diajar menjadi mengerti, paham, dan  mendalami apa yang dipelajarinya itu. Sedangkan pendidikan, adalah kegiatan mengubah watak,. perilaku, atau karakter para siswa.<br />
<span id="more-391"></span><br />
Namun demikian seringkali antara pendidikan  dan pengajaran masih disatu artikan atau dianggap sama. Sehingga yang terjadi kemudian,  tatkala berbicara pendidikan pun, hal yang segera teripikirkan adalah kurikulum, metode pendidikan, materi ajar,  dan evaluasi yang akan dilakukan. Tidak terkecuali tatkala berbicara pendidikan karakter,  tidak sedikit orang segera mencari buku-buku  bahan ajarnya.</p>
<p>Selama ini banyak orang menyebut bahwa,  pendidik karakter yang paling sukses adalah Rosulullah, Muhammad saw.  Beliau diutus oleh Allah di muka bumi  untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.  Sebagai hasilnya  bahwa orang-orang yang dahulunya dikenal sebagai berkharakter jahiliyah, melalui pendidikan yang diberikan oleh nabi,  menjadi pribadi-pribadi yang mulia dan luhur akhlaknya.</p>
<p>Nabi tatkala membangun  karakter yang mulia itu, tidak melalui sekolahan. Oleh karena itu, dalam  menunaikan tugasnya, ia   tidak menggunakan kurikulum, bahan ajar semacam buku teks,  dan termasuk evaluasi yang seringkali  dipikirkan oleh guru. Kharakter atau sebutlah akhlak, rupanya tidak bisa dibentuk oleh sebuah kegiatan dalam belajar dan mengajar di kelas. Karakter memiliki dimensi yang luas dan begitu pula membentuknya.</p>
<p>Dalam menunaikan  tugasnya membangun  akhlak yang mulia itu, nabi mengawalinya dari dirinya sendiri.  Sebagai orang yang  berkarakter, di antaranya adalah  bisa dipercaya. Nabi dikenal dengan sebutan al amien,  yang artinya adalah seseorang yang bisa dipercaya.  Sejak sebelum diangkat  menjadi  nabi,  Muhammad dikenal sebagai orang yang tidak pernah berbohong., Apa  saja yang dikatakan  adalah selalu benar. Pribadi nabi yang mulia seperti itu dikenal secara luas  di masyarakatnya.</p>
<p>Karakter  nabi yang mulia seperti itu,   menjadikan tidak pernah ada orang yang merasa disakiti hatinya.  Orang merasa sakit hati, jengkel dan bahkan marah oleh karena dibohongi.  Nabi tidak pernah berbohong kepada siapapun, dan sebaliknya apa saja yang dikatakan selalu benar, sehingga   tidak ada orang yang kecewa, sakit hati atau marah karenanya.  Karakter nabi  seperti itu secara langsung menjadi contoh atau tauladan bagi orang-orang disekitarnya.  Maka kurikulum pendidikan karakter adalah kehidupan nabi itu sendiri.</p>
<p>Selain itu,  nabi selalu menjaga kesucian dirinya atau tazkiyatun nafs. Pikiran, hati, ucapan, raga,  dan tindakannya selalu  dijaga kesuciannya. Nab i tidak pernah berpikir buruk yang mengakibatkan orang lain menderita,  dan apalagi celaka.  Nabi juga tidak memiliki sifat dengki, hasat, kikir, pemarah, pembenci orang  dan watak buruk lainnya.  Hatinya bersih, dan bahkan  menjelang berangkat melakukan isro’ dan mi’raj, dada nabi dibedah oleh malaikat Jibril dan selanjutnya dibersihkan dengan air zam-zam.</p>
<p>Nabi juga tidak pernah mengatakan kata-kata kotor yang bisa menyakiti orang lain. Apa yang dipikirkan, diucapkan,  dan dilakukan oleh nabi  adalah sama. Dengan perilaku seperti itulah,  maka nabi menjadi dihormati, dihargai, dan dijadikan tauladan. Jika saja masyarakat Quraisy di Makkah semula membencinya, hal itu bukan  disebabkan  karena perilaku nabi yang  tidak baik hingga dibenci, melainkan oleh karena,  berbagai kepentingan mereka terganggu.</p>
<p>Memperhatikan  sejarah kenabian seperti itu, maka tatkala bangsa ini akan mengembangkan pendidikan karakter atau akhlak yang mulia, maka yang perlu disentuh terlebih dahulu adalah para guru atau pendidiknya.  Orang-orang yang mengikuti Muhammad  saw., bukan saja karena telah mendengarkan kata-katanya, melainkan apa yang diucapkannya itu  juga diwujudkan dan disempurnakan dengan  perbuatannya.  Oleh karena itu, dalam pendidikan karakter,  yang justru diperlukan, &#8212;&#8212;-jika mengikuti apa  yang dilakukan oleh nabi,    adalah terlebih dahulu,  membangun karakter  para guru-gurunya itu sendiri. Para murid,  selanjutnya akan meniru dengan sendirinya. Wallahu a’lam.</p>
<p>sumber:http://uin-malang.ac.id/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=2237:mendidik-anak-agar-berkharakter&amp;catid=25:artikel-rektor</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sman1muncar.wordpress.com/391/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sman1muncar.wordpress.com/391/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sman1muncar.wordpress.com/391/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sman1muncar.wordpress.com/391/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sman1muncar.wordpress.com/391/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sman1muncar.wordpress.com/391/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sman1muncar.wordpress.com/391/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sman1muncar.wordpress.com/391/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sman1muncar.wordpress.com/391/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sman1muncar.wordpress.com/391/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sman1muncar.wordpress.com/391/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sman1muncar.wordpress.com/391/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sman1muncar.wordpress.com/391/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sman1muncar.wordpress.com/391/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sman1muncar.wordpress.com&amp;blog=7652152&amp;post=391&amp;subd=sman1muncar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sman1muncar.wordpress.com/2011/06/29/mendidik-anak-agar-berkharakter/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0450fa37442063155eb2dbdc55681f2c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sman1muncar</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kapan Sekolah Bebas Asap Rokok</title>
		<link>http://sman1muncar.wordpress.com/2011/06/07/kapan-sekolah-bebas-asap-rokok/</link>
		<comments>http://sman1muncar.wordpress.com/2011/06/07/kapan-sekolah-bebas-asap-rokok/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 07 Jun 2011 02:03:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sman1muncar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Motivation]]></category>
		<category><![CDATA[Thinking]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sman1muncar.wordpress.com/?p=385</guid>
		<description><![CDATA[Kampung tanpa asap rokok? Jangan berpikir bahwa itu hanya sebuah slogan saja.Karena warga RT 07/WR 06 Bulaksari, Kelurahan Semampir, Kecamatan Wonokusumo,Surabaya telah membuktikannya. Tak heran jika kampung ini mendapat penghargaan Plazmokefree Award,sebuah ajang penghargaan di bidang lingkungan. Salah satu orang yang berperan besar dalam menciptakan kampung tanpa asap rokok itu adalah warganya sendiri,yakni Heru Subijanto, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sman1muncar.wordpress.com&amp;blog=7652152&amp;post=385&amp;subd=sman1muncar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kampung tanpa asap rokok? Jangan berpikir bahwa itu hanya sebuah slogan saja.Karena warga RT 07/WR 06 Bulaksari, Kelurahan Semampir, Kecamatan Wonokusumo,Surabaya telah membuktikannya.<br />
<span id="more-385"></span><br />
Tak heran jika kampung ini mendapat penghargaan Plazmokefree Award,sebuah ajang penghargaan di bidang lingkungan. Salah satu orang yang berperan besar dalam menciptakan kampung tanpa asap rokok itu adalah warganya sendiri,yakni Heru Subijanto, 33.Di kampung tersebut tak hanya warganya saja yang tidak merokok melainkan siapapun yang datang atau sekedar melewati kampung ini tak boleh menghisap rokok. Keberhasilan Heru menyabet juara satu Plazmokefree Award yang digelar Surabaya Plaza Hotel (SPH) disambut haru oleh istrinya.</p>
<p>Sambil menitikkan air tangis bahagia, Heru dipeluk istri dan ibundanya usai penyerahan hadiah.”Saya sama sekali tak menyangka bisa jadi pemenang. Jujur saya sangat bangga sekali,”kata pria yang bekerja sebagai pramubakti di Bank Mandiri Basuki Rahmat ini. Bagi Heru,penghargaan ini sekaligus menjadi kado ulang tahun teristimewa yang ia dapat. Pria kelahiran 7 Juni 1978 ini mengalahkan empat finalis lainnya yakni Susetijowati seorang pengajar yang juga kampanye gerakan anti rokok dengan teaterikal pada siswanya; Teguh Ardisrianto dari Komunitas Jurnalis Peduli Lingkungan Indonesia; Djoko Wismono dengan konsep sekolah bebas asap rokok; dan Mohammad Arief Muljadi dengan konsep Spiritual Emotional FreedomTechnique (SEFT).</p>
<p>Ia pun lantas bercerita tentang gerakan anti asap rokok itu.Semua berawal dari perjuangan yang cukup panjang sejak Desember 2010.Bermula dari ketidaksukaan Heru akan rokok,ia ingin menularkannya pada semua orang yang ada di sekitarnya.”Rokok itu tak enak rasanya dan banyak merugikan kesehatan,tapi saya heran kenapa banyak orang suka sekali merokok,”ujar Wakil RT 7/RW 6 ini. Memang sejak kecil,Heru tak bisa merokok.Seringkali mencoba namun tak juga menemukan asyik dan nikmatnya merokok.”Bahkan istri saya sering tertawa jika melihat saya mencoba merokok.Tak pantas kalau dilihat katanya,” imbuh Heru.</p>
<p>Dari sinilah,ia mencoba untuk menularkan kebiasaan hidup tanpa asap rokok kepada warga kampung. Awalnya ia mengusulkan lewat perkumpulan rutin pengurus kampung.”Pada mulanya memang sulit,karena banyak perokok di lingkungan ini.Tentunya mereka tak serta merta langsung setuju begitu saja,”katanya.Tapi,Heru tak menyerah dan lantas putus asa.Ia tetap terus berkampanye pada orang di sekelilingnya.Pertama mulai dari tetangga sebelah kanan kiri rumahnya.Lama kelamaan semakin meluas ke seluruh kampung.</p>
<p>Ia terus saja mengatakan kepada semua orang betapa kampung ini akan jadi bersih dan sehat tanpa asap rokok. Selain mengusulkan lewat pengurus kampung,Heru juga mengajak ibu-ibu PKK dan Karang Taruna untuk turut menyukseskan kampung bebas asap rokok. Tak disangka,cara ini mulai membuahkan hasil. Sampai pada 12 Desember 2010,warga RT 7/RW 6 Bulaksari melakukan deklarasi di depan Wali Kota Tri Rismaharini sebagai Kampung Bebas Asap Rokok. Kampung dengan 67 kepala keluarga (KK) ini mulai membenahi lingkungannya.</p>
<p>Di depan gapura sengaja dipasang sebuah asbak raksasa dari ban bekas yang kemudian diisi dengan pasir.”Asbak ini sekaligus imbauan agar siapapun yang akan memasuki kampung bisa mematikan rokoknya di asbak tersebut,”ucap Heru. Selain asbak ada banyak slogan yang ditempel di dinding rumah warga ataupun ditancapkan di taman sepanjang gang.Salah satu slogannya bertuliskan Terimakasih anda tidak merokok di kampung kami.Total imbauan yang dipasang sejumlah 25 slogan dengan berbagai variasi kalimat.Meski warga kampung sudah mengikuti aturan, tak jarang Heru mendapat cercaan dari warga kampung sebelah yang seringkali lewat di kampungnya.</p>
<p>”Mulanya mereka mencela saat diminta untuk mematikan rokok saat melewati kampung kami.Tapi lama-lama mereka sendiri yang bosan diingatkan terus sehingga mulai mematuhi peraturan saat lewat di jalan kampung ini,”tutur suami dari Sri Minarti ini. Sementara itu dalam Plazmokefree Award sendiri, SPH menghadiahkan sejumlah uang untuk turut menyukseskan Kampung Bebas Asap Rokok.Ajang Plaza Hotel Smoke Free ini sengaja digelar sebagai salah satu hotel yang bebas asap rokok.</p>
<p>”Penghargaan ini juga diberikan untuk memotivasi publik untuk mendukung terciptanya lingkungan bebas asap rokok di Surabaya,”tukas General Manager SPH Yusak Anshori.</p>
<p>&#8220;Sukses Wujudkan Kampung Bebas Asap Rokok&#8221;<br />
Tuesday, 07 June 2011</p>
<p>http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/403988/</p>
<p>OKTALIA ARY<br />
Surabaya</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sman1muncar.wordpress.com/385/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sman1muncar.wordpress.com/385/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sman1muncar.wordpress.com/385/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sman1muncar.wordpress.com/385/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sman1muncar.wordpress.com/385/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sman1muncar.wordpress.com/385/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sman1muncar.wordpress.com/385/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sman1muncar.wordpress.com/385/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sman1muncar.wordpress.com/385/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sman1muncar.wordpress.com/385/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sman1muncar.wordpress.com/385/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sman1muncar.wordpress.com/385/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sman1muncar.wordpress.com/385/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sman1muncar.wordpress.com/385/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sman1muncar.wordpress.com&amp;blog=7652152&amp;post=385&amp;subd=sman1muncar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sman1muncar.wordpress.com/2011/06/07/kapan-sekolah-bebas-asap-rokok/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0450fa37442063155eb2dbdc55681f2c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sman1muncar</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pengumuman Kelulusan 2011</title>
		<link>http://sman1muncar.wordpress.com/2011/05/16/pengumuman-kelulusan-2011/</link>
		<comments>http://sman1muncar.wordpress.com/2011/05/16/pengumuman-kelulusan-2011/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 May 2011 23:11:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sman1muncar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sman1muncar.wordpress.com/?p=371</guid>
		<description><![CDATA[PEMERINTAH KABUPATEN BANYUWANGI DINAS PENDIDIKAN PEMUDA DAN OLAH RAGA SMA NEGERI 1 MUNCAR Jalan Tapanrejo No 1, ( (0333) 592548, Muncar, Banyuwangi   PENGUMUMAN KELULUSAN   Berdasarkan : Keputusan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Propinsi Jawa Timur Nomor: 421.3/911/103.04/2011 tanggal 29 Pebruari 2011 tentang Pedoman Teknis Penyelenggaraan Ujian Nasional dan Ujian Sekolah SMP/MTs dan SMA/MA [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sman1muncar.wordpress.com&amp;blog=7652152&amp;post=371&amp;subd=sman1muncar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center">PEMERINTAH KABUPATEN BANYUWANGI<br />
<strong>DINAS PENDIDIKAN PEMUDA DAN OLAH RAGA<br />
SMA NEGERI 1 MUNCAR<br />
</strong>Jalan Tapanrejo No 1, ( (0333) 592548, Muncar, Banyuwangi</p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p align="center"><strong>PENGUMUMAN KELULUSAN</strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p>Berdasarkan :</p>
<ol start="1">
<li>Keputusan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Propinsi Jawa Timur Nomor: 421.3/911/103.04/2011 tanggal 29 Pebruari 2011 tentang Pedoman Teknis Penyelenggaraan Ujian Nasional dan Ujian Sekolah<br />
SMP/MTs dan SMA/MA Tahun Pelajaran 2010/2011;</li>
<li>Daftar Kolektif Hasil Ujian Nasional dan Ujian Akhir Sekolah<br />
Tahun Pelajaran 2010/2011;</li>
<li>SK Kepala SMA Negeri 1 Muncar Nomor: 423.7/680/429.245.300090/2011 Tentang Kriteria Kelulusan Ujian Tahun Pelajaran 2010/2011;</li>
<li>Rapat Pleno Dewan Guru Tanggal 16 Mei 2011.</li>
</ol>
<p>Peserta Ujian yang namanya tercantum dibawah ini dinyatakan</p>
<p align="center">LULUS</p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p>Berikut ini adalah Nama-nama siswa yang dinyatakan LULUS  :<span id="more-371"></span></p>
<table width="73%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">001</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-001-8</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Adelia Kusumaningtyas</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">002</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-002-7</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Adi Pranoto</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">003</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-003-6</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Anis Kusuma Wardani</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">004</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-004-5</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Arik Lutviana</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">005</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-005-4</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Asbi Rimawan</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">006</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-006-3</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Ayu Wastyaningtyas</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">007</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-007-2</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Bery Dwi Indariyanto</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">008</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-008-9</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Defri Eko Udiyanto</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">009</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-009-8</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Desi Ayu Ratnasari</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">010</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-010-7</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Desy Ratna Anggraini</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">011</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-011-6</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Dian Pertiwi</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">012</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-012-5</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Dita Suryani</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">013</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-013-4</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Eliana Kusuma</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">014</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-014-3</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Endang Sri Lestari</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">015</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-015-2</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Eni Sulastri</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">016</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-016-9</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Erwin Lestari</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">017</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-017-8</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Fajar Alfaris</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">018</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-018-7</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Febri Willy Sandi</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">019</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-019-6</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Fina Kristina</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">020</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-020-5</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Finda Novita Rini</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">021</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-021-4</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Fitriana Ely Kurniawati Wahyuningtyas</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">022</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-022-3</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Hidayah Oktavia</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">023</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-023-2</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Iis Wahyuni</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">024</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-024-9</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Lailin Rachmawati</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">025</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-025-8</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Lisa Oktavia</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">026</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-026-7</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Moh. Ilham Wahyudi</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">027</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-027-6</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Mohamad Ardi Noviansyah</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">028</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-028-5</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Murniyanti</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">029</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-029-4</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Novita Yuli Suryawati</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">030</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-030-3</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Nunuk Siyami</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">031</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-031-2</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Nur Lestari</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">032</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-032-9</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Puput Yuliana</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">033</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-033-8</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Putri Dian Fitri Andini</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">034</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-034-7</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Rahmad Gopar</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">035</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-035-6</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Ranitya Dewi Ayu Sadian</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">036</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-036-5</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Ricky Hariyono</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">037</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-037-4</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Riska Puspa Dewi</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">038</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-038-3</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Risky Indra Prasetyasari</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">039</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-039-2</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Risqi Novitasari</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">040</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-040-9</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Sigit Alogo Dwi Hatmojo</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">041</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-041-8</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Victoria Mardiyah Hayati</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">042</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-042-7</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Yulian Arum Sari</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">043</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-043-6</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Agnes Silvia Devi</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">044</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-044-5</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Agung Wicaksono</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">045</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-045-4</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Ahmad Efendi</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">046</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-046-3</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Alfiah</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">047</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-047-2</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Ana Tairas</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">048</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-048-9</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Arik Suhermin</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">049</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-049-8</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Asti Yuninda</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">050</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-050-7</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Bagus Atitia Pradana</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">051</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-051-6</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">David Stephanus Glasius</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">052</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-052-5</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Dewi Astuti Mariyah</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">053</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-053-4</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Dian Feronika</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">054</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-054-3</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Dwi Fitriatin</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">055</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-055-2</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Dwi Jatmiko</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">056</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-056-9</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Dwi Lucky Prayogy</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">057</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-057-8</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Elsa Gamaria</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">058</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-058-7</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Fitra Nur Afifah</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">059</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-059-6</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Gandhy Eska Prabangkara</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">060</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-060-5</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Hijah Zuni Nurlaila</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">061</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-061-4</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Ikfina Himmah</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">062</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-062-3</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Indah Sri Rahayu</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">063</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-063-2</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Indria Nurul Arofa Hayura</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">064</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-064-9</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Istianah</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">065</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-065-8</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Iswahyuni Dwi Cahyani</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">066</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-066-7</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Kiki Rian Dita</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">067</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-067-6</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Lilia Tri Wahyuni</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">068</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-068-5</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Muh. Risqi Bantiar Waliyulloh.</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">069</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-069-4</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Ninik Rahayu</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">070</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-070-3</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Nur Aviva</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">071</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-071-2</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Oky Dwi Saputra</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">072</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-072-9</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Putri Nila Sari</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">073</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-073-8</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Ratna Sari</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">074</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-074-7</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Reny Hudayani</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">075</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-075-6</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Rima Anggraini</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">076</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-076-5</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Shella Deshinta Fransiska</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">077</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-077-4</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Silvia Elvaniska</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">078</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-078-3</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Siti Nurhasanah</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">079</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-079-2</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Sri Rahayuningsih</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">080</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-080-9</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Vrisca Dameiyanti</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">081</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-081-8</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Yenis Fitriani</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">082</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-082-7</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Yogita Santye Yusseila</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">083</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-083-6</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Yuyun  Andriana</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">084</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-084-5</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Zainur Muarif</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">085</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-085-4</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Ira Puspita</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">086</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-086-3</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Desiana</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">087</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-087-2</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Ade Ayu Gustari</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">088</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-088-9</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Agus Fauzi</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">089</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-089-8</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Ahmad Mustangin</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">090</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-090-7</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Andika Ramayuda</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">091</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-091-6</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Ayu Via Asmara</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">092</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-092-5</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Benni Setiawan</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">093</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-093-4</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Desi Lutfiyanti</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">094</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-094-3</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Dika Mitrasari</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">095</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-095-2</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Dwi Lucke Prayogo</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">096</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-096-9</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Eko Darma Wicaksono</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">097</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-097-8</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Ely Wahyu Lutfianti</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">098</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-098-7</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Ermanita Noviana Devi</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">099</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-099-6</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Fitri Anggraini</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">100</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-100-5</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Gresi Ayu Marselina</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">101</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-101-4</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Hendrik Hariyanto</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">102</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-102-3</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Hevi Kasari</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">103</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-103-2</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Kusumaningrum Ayu Sasmita</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">104</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-104-9</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Laila Rohmawati</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">105</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-105-8</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Lailatul Mukharomah</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">106</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-106-7</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Leni Untari</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">107</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-107-6</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Leoda Zulfikar Asrusani</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">108</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-108-5</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Mahardika Setyo Okatama</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">109</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-109-4</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Maulina Anggraini</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">110</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-110-3</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Nita Apriliana</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">111</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-111-2</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Nurin Nur Cahyo</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">112</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-112-9</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Rafenska Alif Bianca</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">113</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-113-8</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Retnosari Apriasti</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">114</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-114-7</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Ria Anggi Prastika</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">115</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-115-6</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Riska Nirmala Sari</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">116</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-116-5</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Ryan Ristya Shandy</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">117</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-117-4</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Tri Norma Sari</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">118</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-118-3</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Tri Widinar</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">119</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-119-2</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Wahyu Dwi Hastuti</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">120</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-120-9</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Winda Hari Saputra</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">121</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-121-8</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Yuni Sulistyo Rina</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">122</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-122-7</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Yuni Sulistyo Rini</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">123</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-123-6</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Tiara Dewi Murni</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">124</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-124-5</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Ahsan Farid Saiful Rijal</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">125</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-125-4</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Agus Dwi Purwanto</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">126</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-126-3</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Andri Arista</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">127</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-127-2</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Angga Dwi Firma Febrian</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">128</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-128-9</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Bagus Setiawan</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">129</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-129-8</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Dadang Sony Kurniawan</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">130</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-130-7</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Devi Dwi Siswanti</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">131</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-131-6</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Dewi Ambarsari</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">132</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-132-5</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Dewi Kusuma Rahman</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">133</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-133-4</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Dita Permatasari</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">134</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-134-3</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Dwi Ayu Lestari</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">135</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-135-2</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Dwiyana Sastyaveni</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">136</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-136-9</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Fatmawati</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">137</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-137-8</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Feri Fermanto</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">138</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-138-7</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Feri Nico Eka Pridianta</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">139</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-139-6</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Galih Sandiaji</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">140</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-140-5</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Harmawan Tri Agus Sutrisno</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">141</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-141-4</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Iga Bagus Lesmana</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">142</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-142-3</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Muhammad Abdillah</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">143</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-143-2</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Muhammad Jumali</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">144</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-144-9</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Naning Puji Lestari</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">145</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-145-8</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Nindi Arisusanti</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">146</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-146-7</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Nur Ahmadi</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">147</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-147-6</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Pri Handoko</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">148</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-148-5</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Qusnul Ma”ruf</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">149</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-149-4</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Rifani Havid Rusandi</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">150</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-150-3</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Rumanta Rista Adi</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">151</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-151-2</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Shinta Ayu Ambarsari</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">152</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-152-9</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Siti Nafiah</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">153</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-153-8</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Tiani Sholehah</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">154</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-154-7</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Tri Nopitasari</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">155</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-155-6</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Tri Sukmono Dewa</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">156</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-156-5</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Wiwin Mustika</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">157</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-157-4</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Yayuk Susiati</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">158</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-158-3</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Yuliatin</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">159</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-159-2</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Gagan Ega Sustian</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">160</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-160-9</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Mohmmad Aji Pratama Putra</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">161</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-161-8</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Ade Lina Herawati</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">162</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-162-7</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Agus Susanto</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">163</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-163-6</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Dana Gugus Maulana</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">164</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-164-5</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Defit Sundari</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">165</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-165-4</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Dewi Susilowati</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">166</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-166-3</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Diah Permatasari</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">167</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-167-2</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Dina Ratnasari</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">168</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-168-9</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Dodik Wahyudi</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">169</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-169-8</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Febri Sasmitayanti</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">170</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-170-7</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Fingki Pratama</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">171</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-171-6</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Hasan Riyadi</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">172</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-172-5</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Hendra Prasetiya</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">173</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-173-4</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Hexsa Panduwinata</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">174</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-174-3</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Indra Prayitno</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">175</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-175-2</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Khusnul Khotimah</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">176</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-176-9</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Mazda Ismayadi</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">177</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-177-8</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Muh. Syamsudin Badari</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">178</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-178-7</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Muhamad Sholeh</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">179</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-179-6</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Novi Wulandari</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">180</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-180-5</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Novian Farit Setiawan</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">181</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-181-4</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Novita Ratnadewi</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">182</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-182-3</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Nurul Hidayat</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">183</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-183-2</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Ria Lestari</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">184</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-184-9</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Risky Adi Septian</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">185</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-185-8</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Risma Kusumawati</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">186</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-186-7</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Sulastri</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">187</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-187-6</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Sulistyowati</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">188</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-188-5</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Tina Septiartiani</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">189</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-189-4</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Tri Pidianingsih</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">190</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-190-3</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Vendy Tri Prastio</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">191</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-191-2</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Wage Yulianto</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">192</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-192-9</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Yuliani</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">193</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-193-8</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Juriyanto Wahid Saputra</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%">194</td>
<td nowrap="nowrap" width="32%">34-030-194-7</td>
<td nowrap="nowrap" width="58%">Ratih Novitasari</td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%"></td>
<td nowrap="nowrap" width="32%"></td>
<td nowrap="nowrap" width="58%"></td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%"></td>
<td nowrap="nowrap" width="32%"></td>
<td nowrap="nowrap" width="58%"></td>
</tr>
<tr>
<td nowrap="nowrap" width="8%"></td>
<td nowrap="nowrap" width="32%"></td>
<td nowrap="nowrap" width="58%"></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" width="180"></td>
<td valign="top" width="255">Muncar, 16  Mei 2011</p>
<p>Kepala Sekolah</p>
<p>Ttd</p>
<p><span style="text-decoration:underline;">Drs. SURADI</span></p>
<p>NIP. 195701051985031017</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sman1muncar.wordpress.com/371/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sman1muncar.wordpress.com/371/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sman1muncar.wordpress.com/371/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sman1muncar.wordpress.com/371/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sman1muncar.wordpress.com/371/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sman1muncar.wordpress.com/371/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sman1muncar.wordpress.com/371/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sman1muncar.wordpress.com/371/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sman1muncar.wordpress.com/371/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sman1muncar.wordpress.com/371/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sman1muncar.wordpress.com/371/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sman1muncar.wordpress.com/371/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sman1muncar.wordpress.com/371/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sman1muncar.wordpress.com/371/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sman1muncar.wordpress.com&amp;blog=7652152&amp;post=371&amp;subd=sman1muncar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sman1muncar.wordpress.com/2011/05/16/pengumuman-kelulusan-2011/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0450fa37442063155eb2dbdc55681f2c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sman1muncar</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kelulusan Siswa SMU di Jatim Capai 99 Persen</title>
		<link>http://sman1muncar.wordpress.com/2011/05/15/kelulusan-siswa-smu-di-jatim-capai-99-persen/</link>
		<comments>http://sman1muncar.wordpress.com/2011/05/15/kelulusan-siswa-smu-di-jatim-capai-99-persen/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 May 2011 08:53:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sman1muncar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sman1muncar.wordpress.com/?p=368</guid>
		<description><![CDATA[Angka kelulusan ujian nasional tingkat SMA/MA/SMK di Jawa Timur mencapai 99%. Dari 1.536.000 siswa yang mengikuti Ujian Nasional (UN), 709 siswa di antaranya tidak lulus. &#8220;Hasil UN SMA/MA/SMK tahun 2011 ini sangat baik. Dibandingkan tahun sebelumnya, ada peningkatan tingkat kelulusan,&#8221; kata Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur Harun di Surabaya, MInggu (15/5). Rinciannya, untuk SMA/MA angka [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sman1muncar.wordpress.com&amp;blog=7652152&amp;post=368&amp;subd=sman1muncar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Angka kelulusan ujian nasional tingkat SMA/MA/SMK di Jawa Timur mencapai 99%. Dari 1.536.000 siswa yang mengikuti Ujian Nasional (UN), 709 siswa di antaranya tidak lulus.<span id="more-368"></span></p>
<p>&#8220;Hasil UN SMA/MA/SMK tahun 2011 ini sangat baik. Dibandingkan tahun sebelumnya, ada peningkatan tingkat kelulusan,&#8221; kata Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur Harun di Surabaya, MInggu (15/5).</p>
<p>Rinciannya, untuk SMA/MA angka kelulusannya 99,75 persen atau 203.466 siswa . Yang tidak lulus 0,25 persen atau sebanyak 559 siswa. Sedangkan untuk SMK, kelulusannya 99,9% atau 150.227 siswa dan 150 siswa yang tidak lulus.</p>
<p>Pada 2010 lalu, ketidaklulusan berkisar antara 0,33% untuk SMK dan 0,28% untuk tingkat SMA/MA. Di antara provinsi-provinsi lain di Indonesia, Jawa Timur menempati peringkat kelima nasional.</p>
<p>Meski demikian, kata Karun, mengakui prestasi ini masih belum cukup. Perlu ada perbaikan di tahun-tahun berikutnya.</p>
<p>Terkait dengan ketidaklulusan siswa yang masih terjadi, menurut Harun bukan karena kemampuan akademisnya. Tapi lebih kepada tidak ikutnya siswa yang bersangkutan dalam UN, dikarenakan sakit atau ada keperluan.</p>
<p>&#8220;Jadi, mereka yang tidak lulus itu bukan karena tidak pintar. Tapi, karena sakit atau ada keperluan, sehingga tidak ikut ujian. Tapi, kalau mereka itu ikut Paket C, saya yakin mereka bisa lulus 100%,&#8221; ujarnya.</p>
<p>Pihak Dinas Pendidikan Jatim akan terus mengevaluasi total pelaksanaan UN dan terus berupaya untuk meningkatkan angka kelulusan. Hasil salinan kelulusan itu sudah diberikan kepada seluruh kepala sekolah tingkat SMA sederajat di Jawa Timur. Senin 16 Mei mendatang, kelulusan itu diumumkan.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sman1muncar.wordpress.com/368/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sman1muncar.wordpress.com/368/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sman1muncar.wordpress.com/368/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sman1muncar.wordpress.com/368/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sman1muncar.wordpress.com/368/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sman1muncar.wordpress.com/368/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sman1muncar.wordpress.com/368/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sman1muncar.wordpress.com/368/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sman1muncar.wordpress.com/368/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sman1muncar.wordpress.com/368/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sman1muncar.wordpress.com/368/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sman1muncar.wordpress.com/368/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sman1muncar.wordpress.com/368/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sman1muncar.wordpress.com/368/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sman1muncar.wordpress.com&amp;blog=7652152&amp;post=368&amp;subd=sman1muncar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sman1muncar.wordpress.com/2011/05/15/kelulusan-siswa-smu-di-jatim-capai-99-persen/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0450fa37442063155eb2dbdc55681f2c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sman1muncar</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pendidikan Memihak Siapa ?</title>
		<link>http://sman1muncar.wordpress.com/2010/12/10/pendidikan-memihak-siapa/</link>
		<comments>http://sman1muncar.wordpress.com/2010/12/10/pendidikan-memihak-siapa/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 10 Dec 2010 01:52:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sman1muncar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Motivation]]></category>
		<category><![CDATA[Thinking]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sman1muncar.wordpress.com/?p=364</guid>
		<description><![CDATA[PENDIDIKAN setiap bangsa mesti memiliki ideologi, yaitu keyakinan, nilai, cita-cita, visi, dan metode untuk meraihnya yang setia memajukan bangsa dan negaranya. Dengan demikian, sebuah proses pendidikan bukan sekadar transfer pengetahuan dan mendorong siswa agar membuat persiapan untuk menjawab pertanyaan ketika musim ulangan dan ujian tiba. Ada empat domain pokok yang mesti dipahami dan menjadi acuan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sman1muncar.wordpress.com&amp;blog=7652152&amp;post=364&amp;subd=sman1muncar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>PENDIDIKAN setiap bangsa mesti memiliki ideologi, yaitu keyakinan, nilai, cita-cita, visi, dan metode untuk meraihnya yang setia memajukan bangsa dan negaranya.<br />
<span id="more-364"></span></p>
<p>Dengan demikian, sebuah proses pendidikan bukan sekadar transfer pengetahuan dan mendorong siswa agar membuat persiapan untuk menjawab pertanyaan ketika musim ulangan dan ujian tiba. Ada empat domain pokok yang mesti dipahami dan menjadi acuan dalam setiap proses pendidikan di Indonesia, yaitu agar setiap siswa mengenal dan memahami potensi dirinya sehingga merasa mantap nantinya ketika memilih satu jurusan yang sesuai dengan bakat dan minatnya.Kedua, mengenal karakter dan potensi daerahnya yang potensial untuk dipelihara dan dikembangkan.</p>
<p>Ketiga,memahamisejarah dan jati diri bangsanya untuk dijaga kehormatannya dan dimakmurkan rakyatnya.Keempat, guru dan siswa juga perlu memiliki wawasan regional-global meskipun sekilas mengenai apa yang tengah dan akan terjadi pada tingkat internasional. Keempat domain itu sangat penting dimiliki oleh setiap siswa karena nantinya mereka akan menerima estafet kepemimpinan dan kepemilikan bangsa ini. Tapi disayangkan, suasana batin pendidikan sekarang ini lebih banyak diributkan oleh hal-hal administratif dan heboh ujian nasional yang materinya sangat kognitif.Menarik diteliti,seberapa dalam dan kuat pemahaman serta kecintaan remaja kita terhadap sejarah dan jati diri bangsanya dengan materi dan kultur pendidikan yang berlangsung selama ini.</p>
<p>Saya agak pesimistis lantaran kurikulum dan kultur pendidikan yang ada sekarang kurang menanamkan nilai-nilai patriotisme karena pelajaran sejarah dan ketatanegaraan agak terpinggirkan. Sekolah lebih fokus pada persiapan untuk menghadapi ujian nasional. Sejarah, semangat, dan nilainilai yang menjiwai kelahiran republik ini tidak cukup dipahami para siswa.Rasa pemihakan serta kecintaan kepada rakyat kecil dan Tanah Air kurang tertanam di hati para siswa dan hal ini bisa jadi terbawa sampai besar. Pernah dilakukan survei bahwa para sarjana ketika mencari kerja yang paling diminati adalah bergabung ke kantor penjual jasa dengan gaji besar, kurang mempertimbangkan apakah perusahaan itu prorakyat Indonesia ataukah tidak.</p>
<p>Siapakah pemilik perusahaan dan seberapa besar pemihakannya pada kepentingan Indonesia kurang menjadi pertimbangan. Dengan kata lain, siapa yang mau membayar lebih tinggi akan menjadi pilihan pertama dan utama. Jika sikap pragmatisme seperti itu dominan pada pikiran para siswa dan sarjana kita, logis bila banyak modal asing seenaknya beroperasi di Indonesia dan menggeser usahausaha nasional-pribumi. Tanpa adanya pemihakan ideologis terhadap kepentingan dan harga diri bangsa sendiri yang ditanamkan sejak sekolah dan berlanjut pada jenjang perguruan tinggi serta kultur perusahaan, daya tahan ekonomi dan budaya Indonesia semakin rapuh.</p>
<p>Rumor yang beredar, suap itu tidak saja berlangsung di lingkungan aktor politik, birokrat, dan pengusaha Indonesia, tetapi tak kalah menggiurkan adalah kekuatan luar yang sengaja ingin mendominasi dan menjerat politik ekonomi bangsa ini. Potensi kekayaan alam yang semasa Bung Karno masih diproteksi, sekarang diobral murah pada modal asing dengan pembagian untung yang sangat tidak sepadan. Orang terjebak berpikir pendek untuk memenuhi kepentingan sesaat dan kelompok kecilnya saja dengan mengorbankan aset dan harga diri bangsa dan rakyatnya. Para calon bupati, wali kota, dan gubernur degan tega dan tidak tahu malu meracuni rakyat dengan membagi uang agar dirinya dipilih.</p>
<p>Tindakan ini telah mencederai harga dirinya, rakyatnya, proses demokrasi, dan pada urutannya menyebarkan virus pembusukan ke dalam kultur politik kita. Yang tidak terpantau oleh rakyat adalah transaksi tingkat tinggi yang berlangsung lintas negara. Lagi-lagi, pertanyaan yang mesti kita renungkan adalah seberapa besar pemihakan kita baik dalam dunia pendidikan, ekonomi maupun politik terhadap martabat dan jati diri bangsa sendiri? Bagaimana kita menyikapi pemberitaan tenaga kerja wanita (TKW) yang telantar dan tersiksa di Timur Tengah? Belum lagi nasib petani dan perajin yang terdesak oleh produk impor.</p>
<p>Esai ini ingin mengajak pembaca untuk melihat kembali,sudah tepatkah strategi pendidikan kita untuk menanamkan nilai-nilai cinta Tanah Air, kekayaan budaya sendiri, dan pemihakan kepada rakyat serta martabat bangsanya? Saya tetap pada prinsip, setiap proses pendidikan mesti ada evaluasi semacam ujian. Hanya saja perlu diingat, ujian adalah bagian dari proses pendidikan dan pembentukan karakter, bukan tujuan akhir dari proses pembelajaran siswa sehingga seluruh perhatian guru dan murid diarahkan ke ujian nasional.(*)</p>
<p>PROF DR KOMARUDDIN HIDAYAT<br />
Rektor UIN Syarif Hidayatullah </p>
<p>sumber : seputar-indonesia.com<br />
Friday, 10 December 2010</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sman1muncar.wordpress.com/364/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sman1muncar.wordpress.com/364/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sman1muncar.wordpress.com/364/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sman1muncar.wordpress.com/364/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sman1muncar.wordpress.com/364/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sman1muncar.wordpress.com/364/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sman1muncar.wordpress.com/364/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sman1muncar.wordpress.com/364/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sman1muncar.wordpress.com/364/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sman1muncar.wordpress.com/364/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sman1muncar.wordpress.com/364/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sman1muncar.wordpress.com/364/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sman1muncar.wordpress.com/364/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sman1muncar.wordpress.com/364/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sman1muncar.wordpress.com&amp;blog=7652152&amp;post=364&amp;subd=sman1muncar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sman1muncar.wordpress.com/2010/12/10/pendidikan-memihak-siapa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0450fa37442063155eb2dbdc55681f2c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sman1muncar</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Teori-Teori Motivasi</title>
		<link>http://sman1muncar.wordpress.com/2010/11/17/teori-teori-motivasi/</link>
		<comments>http://sman1muncar.wordpress.com/2010/11/17/teori-teori-motivasi/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 17 Nov 2010 16:24:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sman1muncar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Motivation]]></category>
		<category><![CDATA[Thinking]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sman1muncar.wordpress.com/?p=362</guid>
		<description><![CDATA[Teori-Teori Motivasi Motivasi dapat diartikan sebagai kekuatan (energi) seseorang yang dapat menimbulkan tingkat persistensi dan entusiasmenya dalam melaksanakan suatu kegiatan, baik yang bersumber dari dalam diri individu itu sendiri (motivasi intrinsik) maupun dari luar individu (motivasi ekstrinsik). Teori-Teori Motivasi Seberapa kuat motivasi yang dimiliki individu akan banyak menentukan terhadap kualitas perilaku yang ditampilkannya, baik dalam [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sman1muncar.wordpress.com&amp;blog=7652152&amp;post=362&amp;subd=sman1muncar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Teori-Teori Motivasi</p>
<p>Motivasi dapat diartikan sebagai kekuatan (energi) seseorang yang dapat menimbulkan tingkat persistensi dan entusiasmenya dalam melaksanakan suatu kegiatan, baik yang bersumber dari dalam diri individu itu sendiri (motivasi intrinsik) maupun dari luar individu (motivasi ekstrinsik).</p>
<p>Teori-Teori Motivasi</p>
<p>Seberapa kuat motivasi yang dimiliki individu akan banyak menentukan terhadap kualitas perilaku yang ditampilkannya, baik dalam konteks belajar, bekerja maupun dalam kehidupan lainnya.. Kajian tentang motivasi telah sejak lama memiliki daya tarik tersendiri bagi kalangan pendidik, manajer, dan peneliti, terutama dikaitkan dengan kepentingan upaya pencapaian kinerja (prestasi) seseorang. Dalam konteks studi psikologi, Abin Syamsuddin Makmun (2003) mengemukakan bahwa untuk memahami motivasi individu dapat dilihat dari beberapa indikator, diantaranya: (1) durasi kegiatan; (2) frekuensi kegiatan; (3) persistensi pada kegiatan; (4) ketabahan, keuletan dan kemampuan dalam mengahadapi rintangan dan kesulitan; (5) devosi dan pengorbanan untuk mencapai tujuan; (6) tingkat aspirasi yang hendak dicapai dengan kegiatan yang dilakukan; (7) tingkat kualifikasi prestasi atau produk (out put) yang dicapai dari kegiatan yang dilakukan; (8) arah sikap terhadap sasaran kegiatan.</p>
<p>Untuk memahami tentang motivasi, kita akan bertemu dengan beberapa teori tentang motivasi, antara lain : (1) teori Abraham H. Maslow (Teori Kebutuhan); (2) Teori McClelland (Teori Kebutuhan Berprestasi); (3) teori Clyton Alderfer (Teori ERG); (4) teori Herzberg (Teori Dua Faktor); (5) teori Keadilan; (6) Teori penetapan tujuan; (7) Teori Victor H. Vroom (teori Harapan); (8) teori Penguatan dan Modifikasi Perilaku; dan (9) teori Kaitan Imbalan dengan Prestasi. (disarikan dari berbagai sumber : Winardi, 2001:69-93; Sondang P. Siagian, 286-294; Indriyo Gitosudarmo dan Agus Mulyono,183-190, Fred Luthan,140-167).<span id="more-362"></span></p>
<p>1. Teori Abraham H. Maslow (Teori Kebutuhan)</p>
<p>Teori motivasi yang dikembangkan oleh Abraham H. Maslow pada intinya berkisar pada pendapat bahwa manusia mempunyai lima tingkat atau hierarki kebutuhan, yaitu : (1) kebutuhan fisiologikal (physiological needs), seperti : rasa lapar, haus, istirahat dan sex; (2) kebutuhan rasa aman (safety needs), tidak dalam arti fisik semata, akan tetapi juga mental, psikologikal dan intelektual; (3) kebutuhan akan kasih sayang (love needs); (4) kebutuhan akan harga diri (esteem needs), yang pada umumnya tercermin dalam berbagai simbol-simbol status; dan (5) aktualisasi diri (self actualization), dalam arti tersedianya kesempatan bagi seseorang untuk mengembangkan potensi yang terdapat dalam dirinya sehingga berubah menjadi kemampuan nyata.</p>
<p>Kebutuhan-kebutuhan yang disebut pertama (fisiologis) dan kedua (keamanan) kadang-kadang diklasifikasikan dengan cara lain, misalnya dengan menggolongkannya sebagai kebutuhan primer, sedangkan yang lainnya dikenal pula dengan klasifikasi kebutuhan sekunder. Terlepas dari cara membuat klasifikasi kebutuhan manusia itu, yang jelas adalah bahwa sifat, jenis dan intensitas kebutuhan manusia berbeda satu orang dengan yang lainnya karena manusia merupakan individu yang unik. Juga jelas bahwa kebutuhan manusia itu tidak hanya bersifat materi, akan tetapi bersifat pskologikal, mental, intelektual dan bahkan juga spiritual.</p>
<p>Menarik pula untuk dicatat bahwa dengan makin banyaknya organisasi yang tumbuh dan berkembang di masyarakat dan makin mendalamnya pemahaman tentang unsur manusia dalam kehidupan organisasional, teori “klasik” Maslow semakin dipergunakan, bahkan dikatakan mengalami “koreksi”. Penyempurnaan atau “koreksi” tersebut terutama diarahkan pada konsep “hierarki kebutuhan “ yang dikemukakan oleh Maslow. Istilah “hierarki” dapat diartikan sebagai tingkatan. Atau secara analogi berarti anak tangga. Logikanya ialah bahwa menaiki suatu tangga berarti dimulai dengan anak tangga yang pertama, kedua, ketiga dan seterusnya. Jika konsep tersebut diaplikasikan pada pemuasan kebutuhan manusia, berarti seseorang tidak akan berusaha memuaskan kebutuhan tingkat kedua,- dalam hal ini keamanan- sebelum kebutuhan tingkat pertama yaitu sandang, pangan, dan papan terpenuhi; yang ketiga tidak akan diusahakan pemuasan sebelum seseorang merasa aman, demikian pula seterusnya.</p>
<p>Berangkat dari kenyataan bahwa pemahaman tentang berbagai kebutuhan manusia makin mendalam penyempurnaan dan “koreksi” dirasakan bukan hanya tepat, akan tetapi juga memang diperlukan karena pengalaman menunjukkan bahwa usaha pemuasan berbagai kebutuhan manusia berlangsung secara simultan. Artinya, sambil memuaskan kebutuhan fisik, seseorang pada waktu yang bersamaan ingin menikmati rasa aman, merasa dihargai, memerlukan teman serta ingin berkembang.</p>
<p>Dengan demikian dapat dikatakan bahwa lebih tepat apabila berbagai kebutuhan manusia digolongkan sebagai rangkaian dan bukan sebagai hierarki. Dalam hubungan ini, perlu ditekankan bahwa :</p>
<p>    * Kebutuhan yang satu saat sudah terpenuhi sangat mungkin akan timbul lagi di waktu yang akan datang;<br />
    * Pemuasaan berbagai kebutuhan tertentu, terutama kebutuhan fisik, bisa bergeser dari pendekatan kuantitatif menjadi pendekatan kualitatif dalam pemuasannya.<br />
    * Berbagai kebutuhan tersebut tidak akan mencapai “titik jenuh” dalam arti tibanya suatu kondisi dalam mana seseorang tidak lagi dapat berbuat sesuatu dalam pemenuhan kebutuhan itu.</p>
<p>Kendati pemikiran Maslow tentang teori kebutuhan ini tampak lebih bersifat teoritis, namun telah memberikan fundasi dan mengilhami bagi pengembangan teori-teori motivasi yang berorientasi pada kebutuhan berikutnya yang lebih bersifat aplikatif.</p>
<p>2. Teori McClelland (Teori Kebutuhan Berprestasi)</p>
<p>Dari McClelland dikenal tentang teori kebutuhan untuk mencapai prestasi atau Need for Acievement (N.Ach) yang menyatakan bahwa motivasi berbeda-beda, sesuai dengan kekuatan kebutuhan seseorang akan prestasi. Murray sebagaimana dikutip oleh Winardi merumuskan kebutuhan akan prestasi tersebut sebagai keinginan :“ Melaksanakan sesuatu tugas atau pekerjaan yang sulit. Menguasai, memanipulasi, atau mengorganisasi obyek-obyek fisik, manusia, atau ide-ide melaksanakan hal-hal tersebut secepat mungkin dan seindependen mungkin, sesuai kondisi yang berlaku. Mengatasi kendala-kendala, mencapai standar tinggi. Mencapai performa puncak untuk diri sendiri. Mampu menang dalam persaingan dengan pihak lain. Meningkatkan kemampuan diri melalui penerapan bakat secara berhasil.”</p>
<p>Menurut McClelland karakteristik orang yang berprestasi tinggi (high achievers) memiliki tiga ciri umum yaitu : (1) sebuah preferensi untuk mengerjakan tugas-tugas dengan derajat kesulitan moderat; (2) menyukai situasi-situasi di mana kinerja mereka timbul karena upaya-upaya mereka sendiri, dan bukan karena faktor-faktor lain, seperti kemujuran misalnya; dan (3) menginginkan umpan balik tentang keberhasilan dan kegagalan mereka, dibandingkan dengan mereka yang berprestasi rendah.</p>
<p>3. Teori Clyton Alderfer (Teori “ERG)</p>
<p>Teori Alderfer dikenal dengan akronim “ERG” . Akronim “ERG” dalam teori Alderfer merupakan huruf-huruf pertama dari tiga istilah yaitu : E = Existence (kebutuhan akan eksistensi), R = Relatedness (kebutuhanuntuk berhubungan dengan pihak lain, dan G = Growth (kebutuhan akan pertumbuhan)</p>
<p>Jika makna tiga istilah tersebut didalami akan tampak dua hal penting. Pertama, secara konseptual terdapat persamaan antara teori atau model yang dikembangkan oleh Maslow dan Alderfer. Karena “Existence” dapat dikatakan identik dengan hierarki pertama dan kedua dalam teori Maslow; “ Relatedness” senada dengan hierarki kebutuhan ketiga dan keempat menurut konsep Maslow dan “Growth” mengandung makna sama dengan “self actualization” menurut Maslow. Kedua, teori Alderfer menekankan bahwa berbagai jenis kebutuhan manusia itu diusahakan pemuasannya secara serentak. Apabila teori Alderfer disimak lebih lanjut akan tampak bahwa :</p>
<p>    * Makin tidak terpenuhinya suatu kebutuhan tertentu, makin besar pula keinginan untuk memuaskannya;<br />
    * Kuatnya keinginan memuaskan kebutuhan yang “lebih tinggi” semakin besar apabila kebutuhan yang lebih rendah telah dipuaskan;<br />
    * Sebaliknya, semakin sulit memuaskan kebutuhan yang tingkatnya lebih tinggi, semakin besar keinginan untuk memuasakan kebutuhan yang lebih mendasar.</p>
<p>Tampaknya pandangan ini didasarkan kepada sifat pragmatisme oleh manusia. Artinya, karena menyadari keterbatasannya, seseorang dapat menyesuaikan diri pada kondisi obyektif yang dihadapinya dengan antara lain memusatkan perhatiannya kepada hal-hal yang mungkin dicapainya.</p>
<p>4. Teori Herzberg (Teori Dua Faktor)</p>
<p>Ilmuwan ketiga yang diakui telah memberikan kontribusi penting dalam pemahaman motivasi Herzberg. Teori yang dikembangkannya dikenal dengan “ Model Dua Faktor” dari motivasi, yaitu faktor motivasional dan faktor hygiene atau “pemeliharaan”.</p>
<p>Menurut teori ini yang dimaksud faktor motivasional adalah hal-hal yang mendorong berprestasi yang sifatnya intrinsik, yang berarti bersumber dalam diri seseorang, sedangkan yang dimaksud dengan faktor hygiene atau pemeliharaan adalah faktor-faktor yang sifatnya ekstrinsik yang berarti bersumber dari luar diri yang turut menentukan perilaku seseorang dalam kehidupan seseorang.</p>
<p>Menurut Herzberg, yang tergolong sebagai faktor motivasional antara lain ialah pekerjaan seseorang, keberhasilan yang diraih, kesempatan bertumbuh, kemajuan dalam karier dan pengakuan orang lain. Sedangkan faktor-faktor hygiene atau pemeliharaan mencakup antara lain status seseorang dalam organisasi, hubungan seorang individu dengan atasannya, hubungan seseorang dengan rekan-rekan sekerjanya, teknik penyeliaan yang diterapkan oleh para penyelia, kebijakan organisasi, sistem administrasi dalam organisasi, kondisi kerja dan sistem imbalan yang berlaku.<br />
Salah satu tantangan dalam memahami dan menerapkan teori Herzberg ialah memperhitungkan dengan tepat faktor mana yang lebih berpengaruh kuat dalam kehidupan seseorang, apakah yang bersifat intrinsik ataukah yang bersifat ekstrinsik</p>
<p>5. Teori Keadilan</p>
<p>Inti teori ini terletak pada pandangan bahwa manusia terdorong untuk menghilangkan kesenjangan antara usaha yang dibuat bagi kepentingan organisasi dengan imbalan yang diterima. Artinya, apabila seorang pegawai mempunyai persepsi bahwa imbalan yang diterimanya tidak memadai, dua kemungkinan dapat terjadi, yaitu :</p>
<p>    * Seorang akan berusaha memperoleh imbalan yang lebih besar, atau<br />
    * Mengurangi intensitas usaha yang dibuat dalam melaksanakan tugas yang menjadi tanggung jawabnya.</p>
<p>Dalam menumbuhkan persepsi tertentu, seorang pegawai biasanya menggunakan empat hal sebagai pembanding, yaitu :</p>
<p>    * Harapannya tentang jumlah imbalan yang dianggapnya layak diterima berdasarkan kualifikasi pribadi, seperti pendidikan, keterampilan, sifat pekerjaan dan pengalamannya;<br />
    * Imbalan yang diterima oleh orang lain dalam organisasi yang kualifikasi dan sifat pekerjaannnya relatif sama dengan yang bersangkutan sendiri;<br />
    * Imbalan yang diterima oleh pegawai lain di organisasi lain di kawasan yang sama serta melakukan kegiatan sejenis;<br />
    * Peraturan perundang-undangan yang berlaku mengenai jumlah dan jenis imbalan yang merupakan hak para pegawai</p>
<p>Pemeliharaan hubungan dengan pegawai dalam kaitan ini berarti bahwa para pejabat dan petugas di bagian kepegawaian harus selalu waspada jangan sampai persepsi ketidakadilan timbul, apalagi meluas di kalangan para pegawai. Apabila sampai terjadi maka akan timbul berbagai dampak negatif bagi organisasi, seperti ketidakpuasan, tingkat kemangkiran yang tinggi, sering terjadinya kecelakaan dalam penyelesaian tugas, seringnya para pegawai berbuat kesalahan dalam melaksanakan pekerjaan masing-masing, pemogokan atau bahkan perpindahan pegawai ke organisasi lain.</p>
<p>6. Teori penetapan tujuan (goal setting theory)</p>
<p>Edwin Locke mengemukakan bahwa dalam penetapan tujuan memiliki empat macam mekanisme motivasional yakni : (a) tujuan-tujuan mengarahkan perhatian; (b) tujuan-tujuan mengatur upaya; (c) tujuan-tujuan meningkatkan persistensi; dan (d) tujuan-tujuan menunjang strategi-strategi dan rencana-rencana kegiatan. Bagan berikut ini menyajikan tentang model instruktif tentang penetapan tujuan.</p>
<p>7. Teori Victor H. Vroom (Teori Harapan )</p>
<p>Victor H. Vroom, dalam bukunya yang berjudul “Work And Motivation” mengetengahkan suatu teori yang disebutnya sebagai “ Teori Harapan”. Menurut teori ini, motivasi merupakan akibat suatu hasil dari yang ingin dicapai oleh seorang dan perkiraan yang bersangkutan bahwa tindakannya akan mengarah kepada hasil yang diinginkannya itu. Artinya, apabila seseorang sangat menginginkan sesuatu, dan jalan tampaknya terbuka untuk memperolehnya, yang bersangkutan akan berupaya mendapatkannya.</p>
<p>Dinyatakan dengan cara yang sangat sederhana, teori harapan berkata bahwa jika seseorang menginginkan sesuatu dan harapan untuk memperoleh sesuatu itu cukup besar, yang bersangkutan akan sangat terdorong untuk memperoleh hal yang diinginkannya itu. Sebaliknya, jika harapan memperoleh hal yang diinginkannya itu tipis, motivasinya untuk berupaya akan menjadi rendah.</p>
<p>Di kalangan ilmuwan dan para praktisi manajemen sumber daya manusia teori harapan ini mempunyai daya tarik tersendiri karena penekanan tentang pentingnya bagian kepegawaian membantu para pegawai dalam menentukan hal-hal yang diinginkannya serta menunjukkan cara-cara yang paling tepat untuk mewujudkan keinginannnya itu. Penekanan ini dianggap penting karena pengalaman menunjukkan bahwa para pegawai tidak selalu mengetahui secara pasti apa yang diinginkannya, apalagi cara untuk memperolehnya.</p>
<p>8. Teori Penguatan dan Modifikasi Perilaku</p>
<p>Berbagai teori atau model motivasi yang telah dibahas di muka dapat digolongkan sebagai model kognitif motivasi karena didasarkan pada kebutuhan seseorang berdasarkan persepsi orang yang bersangkutan berarti sifatnya sangat subyektif. Perilakunya pun ditentukan oleh persepsi tersebut.</p>
<p>Padahal dalam kehidupan organisasional disadari dan diakui bahwa kehendak seseorang ditentukan pula oleh berbagai konsekwensi ekstrernal dari perilaku dan tindakannya. Artinya, dari berbagai faktor di luar diri seseorang turut berperan sebagai penentu dan pengubah perilaku.</p>
<p>Dalam hal ini berlakulah apaya yang dikenal dengan “hukum pengaruh” yang menyatakan bahwa manusia cenderung untuk mengulangi perilaku yang mempunyai konsekwensi yang menguntungkan dirinya dan mengelakkan perilaku yang mengibatkan perilaku yang mengakibatkan timbulnya konsekwensi yang merugikan.</p>
<p>Contoh yang sangat sederhana ialah seorang juru tik yang mampu menyelesaikan tugasnya dengan baik dalam waktu singkat. Juru tik tersebut mendapat pujian dari atasannya. Pujian tersebut berakibat pada kenaikan gaji yang dipercepat. Karena juru tik tersebut menyenangi konsekwensi perilakunya itu, ia lalu terdorong bukan hanya bekerja lebih tekun dan lebih teliti, akan tetapi bahkan berusaha meningkatkan keterampilannya, misalnya dengan belajar menggunakan komputer sehingga kemampuannya semakin bertambah, yang pada gilirannya diharapkan mempunyai konsekwensi positif lagi di kemudian hari.</p>
<p>Contoh sebaliknya ialah seorang pegawai yang datang terlambat berulangkali mendapat teguran dari atasannya, mungkin disertai ancaman akan dikenakan sanksi indisipliner. Teguran dan kemungkinan dikenakan sanksi sebagi konsekwensi negatif perilaku pegawai tersebut berakibat pada modifikasi perilakunya, yaitu datang tepat pada waktunya di tempat tugas.<br />
Penting untuk diperhatikan bahwa agar cara-cara yang digunakan untuk modifikasi perilaku tetap memperhitungkan harkat dan martabat manusia yang harus selalu diakui dan dihormati, cara-cara tersebut ditempuh dengan “gaya” yang manusiawi pula.</p>
<p>9. Teori Kaitan Imbalan dengan Prestasi.</p>
<p>Bertitik tolak dari pandangan bahwa tidak ada satu model motivasi yang sempurna, dalam arti masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan, para ilmuwan terus menerus berusaha mencari dan menemukan sistem motivasi yang terbaik, dalam arti menggabung berbagai kelebihan model-model tersebut menjadi satu model. Tampaknya terdapat kesepakan di kalangan para pakar bahwa model tersebut ialah apa yang tercakup dalam teori yang mengaitkan imbalan dengan prestasi seseorang individu .</p>
<p>Menurut model ini, motivasi seorang individu sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik yang bersifat internal maupun eksternal. Termasuk pada faktor internal adalah : (a) persepsi seseorang mengenai diri sendiri; (b) harga diri; (c) harapan pribadi; (d) kebutuhaan; (e) keinginan; (f) kepuasan kerja; (g) prestasi kerja yang dihasilkan.</p>
<p>Sedangkan faktor eksternal mempengaruhi motivasi seseorang, antara lain ialah : (a) jenis dan sifat pekerjaan; (b) kelompok kerja dimana seseorang bergabung; (c) organisasi tempat bekerja; (d) situasi lingkungan pada umumnya; (e) sistem imbalan yang berlaku dan cara penerapannya.</p>
<p>sumber : http://akhmadsudrajat.wordpress.com/<br />
oleh : Akhmad Sudrajat, M.Pd.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sman1muncar.wordpress.com/362/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sman1muncar.wordpress.com/362/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sman1muncar.wordpress.com/362/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sman1muncar.wordpress.com/362/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sman1muncar.wordpress.com/362/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sman1muncar.wordpress.com/362/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sman1muncar.wordpress.com/362/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sman1muncar.wordpress.com/362/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sman1muncar.wordpress.com/362/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sman1muncar.wordpress.com/362/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sman1muncar.wordpress.com/362/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sman1muncar.wordpress.com/362/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sman1muncar.wordpress.com/362/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sman1muncar.wordpress.com/362/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sman1muncar.wordpress.com&amp;blog=7652152&amp;post=362&amp;subd=sman1muncar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sman1muncar.wordpress.com/2010/11/17/teori-teori-motivasi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0450fa37442063155eb2dbdc55681f2c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sman1muncar</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Konsep Dasar Manajemen Peserta Didik</title>
		<link>http://sman1muncar.wordpress.com/2010/11/17/konsep-dasar-manajemen-peserta-didik/</link>
		<comments>http://sman1muncar.wordpress.com/2010/11/17/konsep-dasar-manajemen-peserta-didik/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 17 Nov 2010 16:19:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sman1muncar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Motivation]]></category>
		<category><![CDATA[Thinking]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sman1muncar.wordpress.com/?p=358</guid>
		<description><![CDATA[Konsep Dasar Manajemen Peserta Didik A. Apa yang Dimaksud dengan Manajemen Peserta Didik? Manajemen peserta didik dapat diartikan sebagai usaha pengaturan terhadap peserta didik mulai dari peserta didik tersebut masuk sekolah sampai dengan mereka lulus sekolah.  Knezevich (1961) mengartikan manajemen peserta didik atau pupil personnel administration sebagai suatu layanan yang memusatkan perhatian pada pengaturan, pengawasan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sman1muncar.wordpress.com&amp;blog=7652152&amp;post=358&amp;subd=sman1muncar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Konsep Dasar Manajemen Peserta Didik</p>
<p>A. Apa yang Dimaksud dengan Manajemen Peserta Didik?</p>
<p>Manajemen peserta didik dapat diartikan sebagai usaha pengaturan terhadap peserta didik mulai dari peserta didik tersebut masuk sekolah sampai dengan mereka lulus sekolah.  Knezevich (1961) mengartikan manajemen peserta didik atau pupil personnel administration sebagai suatu layanan yang memusatkan perhatian pada pengaturan, pengawasan dan layanan siswa di kelas dan di luar kelas seperti: pengenalan, pendaftaran, layanan individual seperti pengembangan keseluruhan kemampuan, minat, kebutuhan sampai ia matang di sekolah.</p>
<p>peserta didik</p>
<p>Secara sosiologis, peserta didik mempunyai kesamaan-kesamaan. Adanya kesamaan-kesamaan yang dipunyai anak inilah yang melahirkan kensekuensi kesamaan hak-hak yang mereka punyai. Kesamaan hak-hak yang dimiliki oleh anak itulah, yang kemudian melahirkan layanan pendidikan yang sama melalui sistem persekolahan (schooling). Dalam sistem demikian, layanan yang diberikan diaksentuasikan kepada kesamaan-kesamaan yang dipunyai oleh anak. Pendidikan melalui sistem schooling dalam realitasnya memang lebih bersifat massal ketimbang bersifat individual.</p>
<p>Layanan yang lebih diaksentuasikan kepada kesamaan anak  yang bersifat massal ini, kemudian digugat. Gugatan demikian, berkaitan erat dengan pandangan psikologis mengenai anak. Bahwa setiap individu pada hakekatnya adalah berbeda. Oleh karena berbeda, maka mereka membutuhkan layanan-layanan pendidikan yang berbeda.</p>
<p>Layanan atas kesamaan yang dilakukan oleh sistem schooling tersebut dipertanyakan, dan sebagai responsinya kemudian diselipkan layanan-layanan yang berbeda pada sistem schooling tersebut.</p>
<p>Adanya dua tuntutan pelayanan terhadap siswa,– yakni aksentuasi pada layanan kesamaan dan perbedaan anak–, melahirkan pemikiran pentingnya manajemen peserta didik  untuk mengatur bagaimana agar tuntutan dua macam layanan tersebut dapat dipenuhi di sekolah.</p>
<p>Baik layanan yang teraksentuasi pada kesamaan maupun pada perbedaan peserta didik, sama-sama diarahkan agar peserta didik berkembang seoptimal mungkin sesuai dengan kemampuannya.<span id="more-358"></span></p>
<p>B. Tujuan dan Fungsi Manajemen Peserta Didik</p>
<p>Tujuan umum manajemen peserta didik adalah: mengatur kegiatan-kegiatan peserta didik agar kegiatan-kegiatan tersebut menunjang proses belajar mengajar di sekolah; lebih lanjut, proses belajar mengajar di sekolah dapat berjalan lancar, tertib dan teratur sehingga dapat memberikan kontribusi bagi pencapaian tujuan sekolah dan tujuan pendidikan secara keseluruhan.</p>
<p>Tujuan khusus manajemen peserta didik adalah sebagai berikut:</p>
<p>1. Meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan psikomotor peserta didik.<br />
2. Menyalurkan dan mengembangkan kemampuan umum (kecerdasan), bakat dan minat peserta didik.<br />
3. Menyalurkan aspirasi, harapan dan memenuhi kebutuhan peserta didik.<br />
4. Dengan terpenuhinya 1, 2, dan 3 di atas diharapkan peserta didik dapat mencapai kebahagiaan dan kesejahteraan hidup yang lebih lanjut dapat belajar dengan baik dan tercapai cita-cita mereka.</p>
<p>Fungsi manajemen peserta didik secara umum adalah: sebagai wahana bagi peserta didik untuk mengembangkan diri seoptimal mungkin, baik yang berkenaan dengan segi-segi individualitasnya, segi sosialnya, segi aspirasinya, segi kebutuhannya dan segi-segi potensi peserta didik lainnya.</p>
<p>Fungsi manajemen peserta didik secara khusus dirumuskan sebagai berikut:</p>
<p>1. Fungsi yang berkenaan dengan pengembangan individualitas peserta didik, ialah agar mereka dapat mengembangkan potensi-potensi individualitasnya tanpa banyak terhambat. Potensi-potensi bawaan tersebut meliputi: kemampuan umum (kecerdasan), kemampuan khusus (bakat), dan kemampuan lainnya.<br />
2. Fungsi yang berkenaan dengan pengembangan fungsi sosial peserta didik ialah agar peserta didik dapat mengadakan sosialisasi dengan sebayanya, dengan orang tua dan keluarganya, dengan lingkungan sosial sekolahnya dan lingkungan sosial masyarakatnya. Fungsi ini berkaitan dengan hakekat peserta didik sebagai makhluk sosial.<br />
3. Fungsi yang berkenaan dengan penyaluran aspirasi dan harapan peserta didik, ialah agar peserta didik tersalur hobi, kesenangan dan minatnya. Hobi, kesenangan dan minat peserta didik demikian patut disalurkan, oleh karena ia juga dapat menunjang terhadap perkembangan diri peserta didik secara keseluruhan.<br />
4. Fungsi yang berkenaan dengan pemenuhan kebutuhan dan kesejahteraan peserta didik ialah agar peserta didik sejahtera dalam hidupnya. Kesejahteraan demikian sangat penting karena dengan demikian ia akan juga turut memikirkan kesejahteraan sebayanya.</p>
<p>C. Prinsip-Prinsip Manajemen Peserta Didik</p>
<p>Yang dimaksudkan dengan prinsip adalah sesuatu yang harus dipedomani dalam melaksanakan tugas. Jika sesuatu tersebut sudah tidak dipedomani lagi, maka akan tanggal sebagai suatu prinsip. Prinsip manajemen peserta didik mengandung arti bahwa dalam rangka memanaj peserta didik, prinsip-prinsip yang disebutkan di bawah ini haruslah selalu dipegang dan dipedomani. Adapun prinsip-prinsip manajemen peserta didik tersebut adalah sebagai berikut:</p>
<p>1. Manajemen peserta didik dipandang sebagai bagian dari keseluruhan manajemen sekolah. Oleh karena itu, ia harus mempunyai tujuan yang sama dan atau mendukung terhadap tujuan manajemen secara keseluruhan. Ambisi sektoral manajemen peserta didikB tetap ditempatkan dalam kerangka manajemen sekolah. Ia tidak boleh ditempatkan di luar sistem manajemen sekolah.<br />
2. Segala bentuk kegiatan manajemen peserta didik haruslah mengemban misi pendidikan dan dalam rangka mendidik para peserta didik. Segala bentuk kegiatan, baik itu ringan, berat, disukai atau tidak disukai oleh peserta didik, haruslah diarahkan untuk mendidik peserta didik dan bukan untuk yang lainnya.<br />
3. Kegiatan-kegiatan manajemen peserta didik haruslah diupayakan untuk mempersatukan peserta didik yang mempunyai aneka ragam latar belakang dan punya banyak perbedaan. Perbedaan-perbedaan yang ada pada peserta didik, tidak diarahkan bagi munculnya konflik di antara mereka melainkan justru mempersatukan dan saling memahami dan menghargai.<br />
4. Kegiatan manajemen peserta didik haruslah dipandang sebagai upaya pengaturan terhadap pembimbingan peserta didik. Oleh karena membimbing, haruslah terdapat ketersediaan dari pihak yang dibimbing. Ialah peserta didik sendiri. Tidak mungkin pembimbingan demikian akan terlaksana dengan baik manakala terdapat keengganan dari peserta didik sendiri.<br />
5. Kegiatan manajemen peserta didik haruslah mendorong dan memacu kemandirian peserta didik. Prinsip kemandirian demikian akan bermanfaat bagi peserta didik tidak hanya ketika di sekolah, melainkan juga ketika sudah terjun ke masyarakat. Ini mengandung arti bahwa ketergantungan peserta didik haruslah sedikit demi sedikit dihilangkan melalui kegiatan-kegiatan manajemen peserta didik.<br />
6. Apa yang diberikan kepada peserta didik dan yang selalu diupayakan oleh kegiatan manajemen peserta didik haruslah fungsional bagi kehidupan peserta didik baik di sekolah lebih-lebih di masa depan.</p>
<p>D. Pendekatan Manajemen Peserta Didik</p>
<p>Ada dua pendekatan yang digunakan dalam manajemen peserta didik (Yeager, 1994). Pertama, pendekatan kuantitatif (the quantitative approach). Pendekatan ini lebih menitik beratkan pada segi-segi administratif dan birokratik lembaga pendidikan. Dalam pendekatan demikian, peserta didik diharapkan banyak memenuhi tuntutan-tuntutan dan harapan-harapan lembaga pendidikan di tempat peserta didik tersebut berada. Asumsi pendekatan ini adalah, bahwa peserta didik akan dapat matang dan mencapai keinginannya, manakala dapat memenuhi aturan-aturan, tugas-tugas, dan harapan-harapan yang diminta oleh lembaga pendidikannya.</p>
<p>Wujud pendekatan ini dalam manajemen peserta didik secara operasional adalah: mengharuskan kehadiran secara mutlak bagi peserta didik di sekolah, memperketat presensi, penuntutan disiplin yang tinggi, menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan kepadanya. Pendekatan demikian, memang teraksentuasi pada upaya agar peserta didik menjadi mampu.</p>
<p>Kedua, pendekatan kualitatif (the qualitative approach). Pendekatan ini lebih memberikan perhatian kepada kesejahteraan peserta didik. Jika pendekatan kuantitatif di atas diarahkan agar peserta didik mampu, maka pendekatan kualitatif ini lebih diarahkan agar peserta didik senang. Asumsi dari pendekatan ini adalah, jika peserta didik senang dan sejahtera, maka mereka dapat belajar dengan baik serta senang juga untuk mengembangkan diri mereka sendiri di lembaga pendidikan seperti sekolah. Pendekatan ini juga menekankan perlunya penyediaan iklim yang kondusif dan menyenangkan bagi pengembangan diri secara optimal.</p>
<p>Di antara kedua pendekatan tersebut, tentu dapat diambil jalan tengahnya, atau sebutlah dengan pendekatan padu. Dalam pendekatan padu demikian, peserta didik diminta untuk memenuhi tuntutan-tuntutan birokratik dan administratif sekolah di satu pihak, tetapi di sisi lain sekolah juga menawarkan insentif-insentif lain yang dapat memenuhi kebutuhan dan kesejahteraannya. Di satu pihak siswa diminta untuk menyelesaikan tugas-tugas berat yang berasal dari lembaganya, tetapi di sisi lain juga disediakan iklim yang kondusif untuk menyelesaikan tugasnya. Atau, jika dikemukakan dengan kalimat terbalik, penyediaan kesejahteraan, iklim yang kondusif, pemberian layanan-layanan yang andal adalah dalam rangka mendisiplinkan peserta didik, penyelesaian tugas-tugas peserta didik.</p>
<p>=====================</p>
<p>Diambil  dan adaptasi dari Materi Pembinaan Kepala  Sekolah. Direktorat Tenaga Kependidikan. Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan. Departemen Pendidikan Nasional. 2007)</p>
<p>=====================</p>
<p>sumber: http://akhmadsudrajat.wordpress.com/<br />
by AKHMAD SUDRAJAT</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sman1muncar.wordpress.com/358/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sman1muncar.wordpress.com/358/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sman1muncar.wordpress.com/358/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sman1muncar.wordpress.com/358/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sman1muncar.wordpress.com/358/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sman1muncar.wordpress.com/358/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sman1muncar.wordpress.com/358/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sman1muncar.wordpress.com/358/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sman1muncar.wordpress.com/358/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sman1muncar.wordpress.com/358/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sman1muncar.wordpress.com/358/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sman1muncar.wordpress.com/358/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sman1muncar.wordpress.com/358/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sman1muncar.wordpress.com/358/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sman1muncar.wordpress.com&amp;blog=7652152&amp;post=358&amp;subd=sman1muncar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sman1muncar.wordpress.com/2010/11/17/konsep-dasar-manajemen-peserta-didik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0450fa37442063155eb2dbdc55681f2c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sman1muncar</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pengumuman Kelulusan UN 2010</title>
		<link>http://sman1muncar.wordpress.com/2010/04/26/pengumuman-kelulusan-un-2010/</link>
		<comments>http://sman1muncar.wordpress.com/2010/04/26/pengumuman-kelulusan-un-2010/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 25 Apr 2010 19:42:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sman1muncar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Motivation]]></category>
		<category><![CDATA[Thinking]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sman1muncar.wordpress.com/?p=333</guid>
		<description><![CDATA[Seringkali manusia merasa bangga dengan keberhasilannya. Misalnya, seseorang yang lulus UN (Ujian Nasional). Bisa dimaklumi jika ia merasa senang akan keberhasilannya. Namun, patutkah ia merasa sombong, menganggap kecerdasannya sebagai penentu utama kelulusan itu? Marilah bernalar untuk menjawab pertanyaan di atas. Mari kita coba pikirkan secara jujur apa saja yang menjadikan orang tersebut lulus dalam ujiannya. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sman1muncar.wordpress.com&amp;blog=7652152&amp;post=333&amp;subd=sman1muncar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<iframe class="scribd_iframe_embed" src="http://www.scribd.com/embeds/30479889/content?start_page=1&view_mode=list&access_key=key-u2u7dcadn4d43565td8" data-auto-height="true" scrolling="no" id="scribd_30479889" width="100%" height="500" frameborder="0"></iframe>
<div style="font-size:10px;text-align:center;width:100%"><a href="http://www.scribd.com/doc/30479889">View this document on Scribd</a></div>
<div style="text-align:left;"><a href="http://fkismancar.wordpress.com/2008/12/05/ribuan-orang-turut-berjasa/"><img style="border:0 solid;" src="http://i389.photobucket.com/albums/oo331/dolphind66_2008/sujud_500.jpg" alt="dolphin" /></a></div>
<div style="text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;line-height:140%;color:#000000;font-family:Rockwell;"><br />
Seringkali manusia merasa bangga dengan keberhasilannya. Misalnya, seseorang yang lulus UN (Ujian Nasional). Bisa dimaklumi jika ia merasa senang akan keberhasilannya. Namun, patutkah ia merasa sombong, menganggap kecerdasannya sebagai penentu utama kelulusan itu?</p>
<p>Marilah bernalar untuk menjawab pertanyaan di atas. Mari kita coba pikirkan secara jujur apa saja yang menjadikan orang tersebut lulus dalam ujiannya.</p>
<p>Tak dipungkiri, persiapan matang dan kerja kerasnya dalam belajar merupakan penentu penting. Tapi mungkinkah ia belajar keras tanpa makan, minum, penerangan, buku, alat tulis, lembaga pendidikan? Jawabannya: mustahil. Artinya, orang-orang yang berjasa dalam tersedianya bahan makanan dan minuman seperti petani, pedagang, pembuat sumur, petugas penjernihan air, dan sebagainya, juga bersumbangsih dalam kelulusannya. Ini bermakna pula keberhasilannya tak luput dari jasa karyawan perusahaan listrik, pegawai perusahaan buku, kertas, alat tulis, penerbitan, guru dan karyawan lembaga pendidikan.</p>
<p>Keberhasilannya dikarenakan pula dukungan sarana transportasi ke tempat ujian. Orang-orang yang turut menghasilkan kendaraan, membuat jalan, menjadi sopir angkutan atau petugas perusahaan bahan bakar minyak juga turut andil dalam memperlancar dirinya sampai di tempat ujian dengan selamat. Saudara, tetangga, orang di jalanan yang ia lalui di hari ujian, bahkan semua orang di sekelilingnya pun termasuk yang menentukan keberhasilannya. Mengapa? Sebab di hari itu, tak satu pun dari mereka yang melakukan perbuatan yang berakibat gagalnya ia menempuh ujian.</p>
<p>Jika dihitung semua, sekitar puluhan bahkan mungkin hingga ribuan orang yang sebenarnya turut andil dalam kelulusannya. Segala kecerdasan otak dan persiapan matangnya takkan menjadikannya lulus ujian jika perjalanannya ke tempat ujian mengalami kecelakaan mematikan akibat sopir angkutan umum yang ceroboh, atau orang jahat yang melukainya hingga parah untuk merampoknya menjelang ujian, dan sebagainya. Kesimpulannya, seluruh orang yang turut berjasa, namun yang seringkali ia lupakan ini, seolah melakukan tugasnya masing-masing demi memudahkannya lulus ujian masuk perguruan tinggi. Padahal ia sama sekali tak pernah meminta, memerintahkan atau mengendalikan mereka semua untuk membantu mewujudkan cita-citanya.</p>
<p>Demikianlah, tidak sepatutnya orang merasa sombong dan hebat dengan pencapaiannya. Sebaliknya, kebahagiaan karena keberhasilan itu hendaknya diiringi rasa terima kasih kepada orang lain yang telah ikut berjasa, rasa syukur dan rendah diri di hadapan ALLAH SWT, Pemberi sejati keberhasilan itu.</p>
<p></span></div>
<p><a title="View Pengumuman Kelulusan UN 2010 on Scribd" href="http://www.scribd.com/doc/30479889/Pengumuman-Kelulusan-UN-2010" style="font-family:Helvetica,Arial,Sans-serif;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:14px;line-height:normal;display:block;text-decoration:underline;margin:12px auto 6px;">Pengumuman Kelulusan UN 2010</a> 				 		 		 		 		 		 	</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sman1muncar.wordpress.com/333/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sman1muncar.wordpress.com/333/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sman1muncar.wordpress.com/333/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sman1muncar.wordpress.com/333/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sman1muncar.wordpress.com/333/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sman1muncar.wordpress.com/333/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sman1muncar.wordpress.com/333/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sman1muncar.wordpress.com/333/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sman1muncar.wordpress.com/333/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sman1muncar.wordpress.com/333/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sman1muncar.wordpress.com/333/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sman1muncar.wordpress.com/333/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sman1muncar.wordpress.com/333/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sman1muncar.wordpress.com/333/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sman1muncar.wordpress.com&amp;blog=7652152&amp;post=333&amp;subd=sman1muncar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sman1muncar.wordpress.com/2010/04/26/pengumuman-kelulusan-un-2010/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0450fa37442063155eb2dbdc55681f2c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sman1muncar</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://i389.photobucket.com/albums/oo331/dolphind66_2008/sujud_500.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">dolphin</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
