IDUL ADHA & QURBAN

Hari Raya ‘Idul Adha – atau Hari Raya Qurban yang selalu dirayakan oleh umat Islam – seperti hari ini – dirayakan di seluruh penjuru dunia – hakekatnya adalah – untuk membuktikan kepada dunia – bahwa syariat agama – ajaran-ajaran – yang dibawa oleh Rosululllah Muhammad SAW itu – betul-betul agama yang membawa kesucian, kebenaran, keadilan, kesusilaan, dan perikemanusiaan yang sesuai dengan fitrah manusia.

Sehingga apabila ajaran-ajaran Islam tersebut – benar-benar dijalankan, diterapkan dalam gelanggang kehidupan – niscaya membawa umat manusia – kearah keselamatan, kesejahtaraan, ketentraman dan kebahagiaan yang hakiki – di dunia  dan akhirat.

Hari Raya ini disebut juga sebagai Yaumul Hajjil Akbar – Kemarin saudara-saudara kita yang memenuhi panggilan Allah untuk melaksanakan ibadah Haji – melaksanakan wukuf di Padang Arofah – sebagai puncak ibadah Haji – yang tidak bisa digantikan orang lain. Dan kita semua yang tidak melaksanakan ibadah Haji disunatkan untuk berpuasa pada hari Arofah, yakni taggal 9 Dzulhijjah. Dan – hari ini – tanggal 10 Dzulhijjah kita melaksanakan sholat ‘Id bersama-sama dan melakukan penyembelihan hewan Qurban – demi pendekatan hamba kepada Penciptanya.

Lantas apa yang dapat kita ambil sebagai pelajaran dari makna proses ibadah Haji ataupun Qurban yang dilakukan umat Islam. – Sebab Allah senantiasa menyuruh kita untuk menggunakan akal dan pikiran, – guna membaca, menelaah, dan mencermati, lalu mengambil pelajaran yang ada didalamnya – untuk diterapkan dalam gelanggang kehidupan ini. Rasulullah Muhammad SAW pernah mengucapkan dalam rangkaian penjelasan beliau bahwa ;

“Ma’rifat adalah modalku

Akal pikiran adalah sumber agamaku”

Sekarang mari kita pikirkan  dan renungkan pelajaran apa yang dapat kita ambil – Pelajaran awal adalah dari IHRAM. Ibadah Haji diawali dengan niat, lalu melepaskan – menanggalkan pakaian biasa  – kemudian harus berganti mengenakan pakaian IHRAM. Niat adalah suatu kesadaran  visi  / pandangan yang jauh melampaui kehidupan dunia –  pandangan demi akhirat yang baik – pandangan yang meningkatkan keimanan – iman tauhid – yang membawa kepada kebebasan berpikir. Suatu keyakinan yang dalam – pemahaman yang baik – sangat diperlukan dalam menjalani proses kehidupan. – Dan langkah pertama IHRAM adalah  – lambang penjernihan hati – penjernihan emosi – bahwa manusia harus menghadapkan diri kepada Allah – dengan hati yang bersih, – hati yang suci.

Coba kita renungkan firman Allah :

Dan sungguh Ibrohim benar-benar termasuk dalam golongannya ( golongan Nabi-nabi, golongan orang-orang yang sholeh ) ketika ia datang kepada Tuhannya dengan hati yang bersih, hati yang suci, hati yang selamat. ( QS Ash Shaaffaat 37 : 84 )

Dan hati yang suci, hati yang bersih, yang dilambangkan dengan IHRAM, – adalah syarat utama apabila kita manusia akan menghadap Allah, – hati yang bersih dan suci dari belenggu-belenggu kehidupan duniawi.

Suatu hari yang harta dan anak laki-laki tidak berguna, tidak bermanfaat, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang selamat, hati yang bersih. ( QS Asy Syu’ara 26 : 89 )

Inilah langkah awal yang harus kita lakukan – penjernihan hati – dari berbagai macam belenggu dan tabir gelap yang menghalangi – sebagai syarat utama pengenalan – ma’rifat yang sempurna – mengenal kepada Allah SWT, – mengenal kepada Rasullullah SAW, – mengenal alam semesta – mengenal diri sendiri. Sehingga – akal dan pikiran, pendengaran dan penglihatan – dapat membaca berbagai pelajaran Illahi Robbi. Penjernihan hati dari belenggu dan tabir gelap – yang antara lain : Prasangka negatif, Pikiran Negatif (Negatif Thinking), prinsip hidup selain Allah, pengalaman yang membelenggu, kepentingan dan prioritas yang bersumber pada hawa nafsu, sudut pandang yang bersumber pada hawa nafsu, pembanding yang tidak obyektif, yakni pembanding yang dilandasi subyektifitas hawa nafsu, bacaan parsial dan sebagainya – termasuk didalamnya adalah kesombongan atau ketakaburan.

Khibir/sombong/takabur itu menolak kebenaran dan merendahkan orang lain (Al Hadits)

Dalam hidup ini – jika kita terbebas dari belenggu dan tabir gelap hati dan jiwa – maka kita akan dapat mendengar suara hati dengan jelas, – mendengar hidayah Allah – dapat memahami Al-Qur’an dengan baik – memahami 99 sifat Allah (Asmaul Husna) – dan kita dapat benar-benar menjadi kholifah Allah seperti yang diharapkan dan dikehendaki Allah SWT.

Betapapun beratnya penjernihan hati – namun itu harus kita lakukan, Dan- setelah didapatkannya – sebuah pribadi yang merdeka dengan tauhid – setelah menculnya pribadi yang fitrah, – bebas dari belenggu jiwa, belenggu emosi, – maka – Mulailah mereka – setelah itu – melakukan langkah nyata sebagai arti dan makna pelajaran dari kegiatan “ THOWAF dan SA’I “

Thowaf – berputar mengelilingi Ka’bah 7x dengan arah putaran kekiri – arah putaran yang sama dengan putaran bumi dan teman-teman planetnya (merkurius, venus, mars, Jupiter, dll) saat beredar mengelilingi matahari sebagai pusat tata surya (porosnya) – arah putaran yang sama dengan putaran tata surya kita (matahari dan anak buahnya) beserta teman-teman tata surya-tata surya nya saat beredar mengelilingi pusat galaksi – arah putaran yang sama dengan putaran lektron-elektron saat mengelilingi inti atom – arah putaran yang sama dengan putaran jagad raya ini – adalah melambangkan sebuah komitmen, istiqomah – yang tidak hanya dimulut – tidak hanya dalam pikiran – tetapi harus diwujudkan melalui perbuatan dan praktek yang bisa diukur secara nyata  dan visual.

Seseorang tidak cukup hanya menyatakan bahwa dia beriman – tidak cukup dengan hanya dia telah bersyahadat – namun perlu wujud nyata dari Sholatnya – dan terutama lagi sholatnya benar-benar mampu mencegahnya dari fakhsya’ dan munkar – dan bekas sujudnya tampak nyata dalam tata hidupnya – yang berguna untuk orang lain. Dan – Thowaf berpusat pada Ka’bah, yang merupakan alat Bantu gambaran prinsip, – hanya berpusaat dan berpegang kepada Allah SWT saja. Lambang kegiatan manusia yang tiada henti – dan semua kegiatan haruslah hanya berprinsip kepada Allah – bukan yang lain – ikhlas pada Allah – Inilah pusat prinsip.

Disinilah lambang bahwa ; pemahaman tidak hanya didapat dari pendengaran dan penglihatan saja, – tetapi melalui tindakan fisik yang nyata dan berulang-ulang.

Kemudian hendaklah mereka menghilangkan kotorannya, dan hendaklah mereka menyempur-nakan nazar-nazaar mereka, dan hendaklah mereka thowaf disekitar rumah tua itu (Baitullah) ( QS Al Hajj 22 : 29 )

Thowaf 7x putaran mengandung makna perjuangan yang tiada henti 7 hari dalam seminggu – dengan kegiatan nyata – yang berpusat dan berprinsip kepada Allah SWT

Berikutnya adalah SA’I  yang melambangkan pendakian yang penuh dengan optimis ketika melihat setitik harapan – dalam jiwa yang tidak kenal ke-putus-asa-an. HAJAR ketika melihat ada setitik air – yang sebenarnya adalah fatamorgana – dia berjuang dengan gigih. Setitik harapan – harapan kita akan masa depan – yang bukan fatamorgana – harapan akan akhirat yang lebih baik – hendaknya mampu mengobarkan semangat juang dalam menegakkan agama ALLAH.

Sesungguhnya shofa dan marwah adlah sebagian dari syiar-syiar Allah.

Dari usaha yang gigih itu – dari secercah harapan – keberadaan Allah yang selalu memberi balasan – ALLAH tempat bergantung – setelah seluruh usaha dengan tidak mengenal putus asa.  Saat itu Hajar gigih berusaha menyelamatkan ISMAIL puteranya yang lemah, – mendapatkan balasan yang berlimpah dari Allah SWT.

Saat inipun kita semua harus berjuang, – mengentaskan rakyat dari kemiskinan dengan zakat, dan infaq-infaq sunat lainnya, – mengentaskan masyarakat dari kebodohan, -dengan perjuangan yang keras tanpa kenal putus asa.

Maka barang siapa yang beribadah haji ke baitullah atau berumroh, tiadalah salahnya ia berthowaf mengelilingi keduanya. Dan barang siapa atas kemauan sendiri berbuat kebaikan, sungguh Allah Maha Berterima kasih (Mensyukuri) dan Maha Tahu. ( QS 2 : 158 )

Selanjutnya adalah wukuf, – yang berarti berhenti. Inilah puncak ibadah haji, – manusia berhenti sejenak, – berhenti secara fisik, – namun bergerak secara pikiran – bergerak kearah netral – bergerak kearah fitrah – merasakan dan mendengarkan suara hati – asmaul husna – sifat-sifat Allah SWT. – Disini dievaluasi, – sudahkah kita melaksanakan atau mengerjakan sesuatu yang sesuai dengan harapan Allah ?  – Satu persatu kita periksa – Jika Allah bersifat Rohman dan Rophim – sudahkah kita mewujudkan rasa kasih sayang itu – untuk orang-orang disekitar kita, – Jika Allah Al Maalik – sudahkah kita mampu menguasai diri, – jika Allah Al Quddus – sudahkah kita suci dalam berpikir dan bertindak, – dan sebagainya. – Evaluasi diri, dan jika belum, maka segeralah istighfar – mohon ampun atas kesalahan kita.

Dan katakanlah “ Ya Tuhanku berilah ampun dan berilah rahmat, Engkaulah pemberi rahmat yang paling baik “

Dan disinilah kita bertekad – untuk memperbaiki di esok hari. – Lakukan dzikir ( meng-ingat Allah ) – untuk menguatkan suara hati – yang mendorong kita – membimbing kita – kearah kebenaran – kearah kemajuan – kearah keberhasilan – di akhirat dan di dunia – secara fisik dan mental. – Tantangan berat kehidupan – harus kita hadapi – dengan tetap tenang – dan tetap menguasai diri.

Disinilah gambaran masa depan – yang dilandasi evaluasi pemikiran yang telah dibersihkan – yang dibangun diatas landasan fitrah yang kokoh.

Selanjutnya adalah lontar jumrah – lambang bahwa hidup ini adalah perjuangan meng-hadapi tantangan – dengan tetap berpegang teguh pada prinsip “Laa ilaaha illa ALLAH”

Musuh pertama ; Nafsu lahiriyah, insting hewani, sifat-sifat kebinatangan.

Musuh kedua, – yang lebih sulit terdeteksi – adalah kita sama sekali tidak merasa bersalah – padahal sebenarnya kita bersalah.

Musuh ketiga – yang sulit disembuhkan – adalah menuhankan sesuatu selain Allah – menganggap sesuatu selain Allah itu sama-sama penting – menggandakan Tuhan – dengan : harta, jabatan, kehormatan, konsumerisme, ilmu, profesi, mobil, cinta, dsb.

Lempar itu semua – kalahkan musuh-musuh kita – dengan tetap mengingat bahwa kita ( anda/saudara-saudaraku ) umat Islam – adalah rahmatan lil ‘alamiin

Dan katakanlah “ Ya Tuhanku, aku berlindung kepada-MU dari bisikan jahat setan-setan, dan aku berlindung kepada-MU Ya Tuhanku, supaya mereka jangan mendekati aku. “

Jama’ah Haji adalah suatu sinergi – kerjasama – disinilah kita harus bekerja sama – dalam profesi yang berbeda-beda – saling mendukung satu dengan yang lain – menciptakan sebuah kekuatan kehidupan yang kokoh. – Satu sama lain harus husnudzdzon ( baik sangka ) – jujur kepada orang lain dan diri sendiri – bersikap terbuka – berusaha saling mempercayai – kerjasama / sinergi – membawa misi – rahmatan lil ‘alamiin – dalam kesatuan tauhid yang Esa.

Sedangkan Qurban melambangkan tingkat kepasrahan / berserah diri – yang tertinggi kepada Allah – dengan segala keihlasan jiwa dan raga. – Kita boleh mencintai anak dan harta, – namun jangan berlebihan – bahkan sampai melebihi cinta kita kepada Allah Yang Maha Esa.

Ketahuilah bahwa hartamu dan anak-anakmu hanyalah ujian, Dan ketahuilah pada-NYA-lah pahala yang besar.

Itulah kiranya uraian singkat, dari makna pelajaran yang dapat kita petik, dari rangkaian ibadah Haji dan Qurban. – Yang tentunya masih harus kita gali lebih dalam – dan kita buka lebih luasuntuk direnungkan, – dalam waktu lain yang tertata rapi dan terprogram. Dan selanjutnya untuk diterapkan, dan diaplikasikan dalam gelanggang kehidupan.

Selanjutnya kita berharap – semoga kita diberi kekuatan oleh Allah untuk menjalankannya dengan baik, – untuk menerapkan dalam kehidupan nyata, – kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Aamiin.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: