Archive for January, 2010

Mulailah dengan A; B; C;

Dalam belajar bahasa, baik bahasa indonesia maupun bahasa inggris, semuanya diawali dengan mengenal dan memahami betul tentang A, B, C,

Ya, kita semua sudah mengenal itu, tapi, apakah kita sudah menerapkan untuk mengawali belajar kita, karena memang hidup ini sebuah proses belajar yang berkesinambungan dan tidak pernah henti, belajar seumur hidup, long life education, atau belajar mulai dari rahim sampai masuk liang lahat.

Mari kita kembali memahami mengapa kita harus memulai kembali dari A, B, C,

A adalah untuk Assured (=pastikan)
Maka dalam hidup ini kita harus benar-benar pastikan, bahwa kita ini mau untuk assured “pastikan”, namun apa yang harus kita pastikan,,?

1. Pastikan kita punya impian (=dream, goal, destination, tujuan, cita-cita)
Itulah yang pasti harus kita punyai, sebuah cita-cita, tujuan, detination, goal, dream. Sebab tanpa itu tidak akan ada yang kita kerjakan, tidak akan pernah ada sesuatu yang kita lakukan.
Coba aja kita simak (i have a dream “westlife” mode on), kita harus punya dream, impian, cita-cita yang tinggi dan setinggi mungkin. Sebuah lagu yang harus selalu selalu kita dengungkan di telinga, hati dan pikiran kita, hati selalu kita jaga, kita pelihara, dan kita rawat. Jangan sampe dream kita hilang menguap begitu saja, atau jangan sampai dicuri orang, karena sekarang ini banyak orang yang kehilangan cita-citanya, baik hilang menguap dengan sendirinya ataupun hilang dicuri orang. “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS2, Al Baqarah:261) Continue reading

Advertisements

Guru Butuh Pelatihan, Bukan Sertifikasi

BANDUNG–Sertifikasi guru yang tidak berdampak pada peningkatan kualitas mengajar guru, ternyata sudah diprediksi oleh pakar pendidikan sebelum program tersebut digulirkan.

Adalah Pakar Pendidikan dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, Said Hamid Hasan yang pernah mengungkap sinyalemen itu. Menurut Said, dari awal dirinya sudah menyatakan sertifikasi tidak akan berdampak pada peningkatan kualiatas.

”Sertifikasi itu secara konsep memang salah dan hanya menghabiskan uang,” ujar Said kepada Republika, Selasa (12/1).Said menilai apa yang disertifikasikan oleh pemerintah sebenarnya dilapangan sudah dimiliki oleh guru.

Karena, porto folio sertifikasi itu merupakan pengakuan kemampuan yang sudah dimiliki guru. Guru yang mengajar, sudah memiliki akta untuk mengajar tapi harus punya sertifikat lagi. ”Secara konsep sertifikasi memang keliru kalau dikatkan peningkatan kualiatas. Sertifikasi dihentikan saja. Guru-guru kan sudah ada akta mengajar,” katanya.

Kalau pemerintah ingin guru di Indonesia memiliki kemampuan tertentu, sambung Said, tidak perlu dikaitkan dengan sertifikasi. Sebaiknya, guru diberikan pelatihan. Setelah menyelesaikan pelatihan itu, baru diberikan sertifikat yang sesuai dengan apa yang sudah dilatihkan.

Untuk meningkatkan kualitas guru, kata dia, setiap saat mereka harus diberi pelatihan. Terutama, setiap ada kempauan baru yang harus mereka kuasai. Karena hal itu, kata dia, sudah menjadi kewajiban pemerintah untuk memberikan profesional development atau pengembangan profesi. ”Kalau perlu setiap satu tahun sekali, guru diberikan pelatihan yang harus diikuti oleh setiap guru,” ujarnya.

Selama ini, kata dia, untuk memenuhi persyaratan sertifikasi beberapa guru ada yang asal mengikuti seminar hanya untuk memperoleh sertifikatnya. Hal itu wajar, kata dia, karena mereka memang tidak dirancang utk mengikuti seminar. Kalau sekarang mereka tidak punya sertifikat seminar dan berbondong-bondong mencari sertifikat seminar, itu bukan salah mereka.

Karena program sertifikasi guru ini sudah berjalan, kata dia, kalau akan dihapuskan pemerintah harus mengambil langkah untuk menghilangkan kesenjangan antara guru yang sudah memiliki sertifikasi dan tidak. Salah satu cara yang bisa ditempuh, kata dia, semua guru yang sudah bergelar S1 dan memiliki akta mengajar, sebaiknya memperoleh hak sesuai dengan sertifikat guru yang sudah disertifikasi. ”Untuk guru yang belum S1 sebaiknya diberikan program masuk S1. Kalau tidak memiliki akta mengajar, harus menempuh program akta itu dulu,” tegas Said. (Republika)

Mendiknas : Kualitas Ujian Nasional Akan Terus Ditingkatkan

MEDAN–Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Mohammad Nuh, mengatakan, kualitas Ujian Nasional (UN) dari tahun ke tahun akan terus diperbaiki hingga tercapai suatu metode yang ideal.

“Yang namanya metode itu selalu saja terus menerus terbuka untuk selalu diperbaiki, begitu juga dengan UN akan terus mengalami perbaikan hingga tercapai keidealan seperti yang kita harapkan,” katanya di Medan, Selasa.

Ia mengatakan, ada beberapa langkah yang akan terus diperbaiki pelaskanaan UN tersebut, seperti misalnya kualitas soal ujian yang semakin baik, begitu juga dengan kualitas pelaksanaannya yang juga akan kian membaik.

Kualitas soal harus mencerminkan tingkat kedalaman materi yang disesuaikan dengan kenyataan bahwa ada variasi kualitas di sekolah-sekolah. Jangan sampai soal yang diujikan tersebut hanya mencerminkan kedalaman materi saja, padahal variasi kualitas sekolah sangat beragam.

Dari sisi pelaksanaan, mulai dari percetakan soal benar-benar diyakinkan dan dipastikan tidak akan ada kebocoran. Begitu juga pada saat pendistribusian soal ke sekolah-sekolah dan pada pelaksanaan hari ujian benar-benar diusahakan bebas dari usaha kecurangan. “Semua pihak akan dilibatkan dalam usaha-usaha memperkecil usaha kecurangan tersebut baik kepolisian, maupun pengawas dari perguruan tinggi,” katanya.

Demikian halnya dengan guru pengawas ujian tidak boleh dari sekolah itu sendiri, kalau tadinya guru dari sekolah A mengawasi di sekolah B dan guru sekolah B mengawasi di sekolah A, kalau sekarang tidak lagi karena seperti itu dikhawatirkan akan terjadi kerja sama di antara guru dari kedua sekolah.

Sekarang, katanya, guru dari sekolah A mengawas di sekolah B dan guru sekolah B mengawas sekolah C dan begitu seterusnya. Jadi rantainya semakin diperpanjang. “Demikian juga keterlibatan perguruan tinggi yang dijadikan sebagai pemantau dan pengawas independen,” katanya.

Lebih lanjut Mendiknas mengatakan, yang tidak kalah penting adalah evaluasi setelah UN usai dilaksanakan. Evaluasi jangan sampai hanya sekedar untuk menentukan lulus tidaknya siswa, tapi justru hasil evaluasi tersebut harus digunakan untuk pemetaan.

Hasil pemetaan tersebut untuk selanjutnya akan digunakan sebagai intervensi kebijakan. Misalnya, dari hasil evaluasi diketahui di suatu kota nilai yang rendah itu adalah matematika maka selanjutnya guru-guru matematika dari kota itu akan di “up-grading”.

“Atau dari hasil evaluasi tersebut rendahnya nilai siswa karena minimnya infrastruktur, maka ke depannya di daerah tersebut akan diupayakan penambahan infrastruktur seperti fasilitas laboratorium, penambahan ruang kelas,” katanya. (Republika)

Yes We Can Do It

Renungan Ayat:

Mereka menjawab: ” Berdoalah kepada Tuhanmu untuk Kami, agar Dia menerangkan kepada kami; sapi betina Apakah itu.” Musa menjawab: “Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang tidak tua dan tidak muda; pertengahan antara itu; Maka kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu”.
Mereka berkata: “Berdoalah kepada Tuhanmu untuk Kami agar Dia menerangkan kepada Kami apa warnanya”. Musa menjawab: “Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang kuning, yang kuning tua warnanya, lagi menyenangkan orang-orang yang memandangnya.”
Mereka berkata: “Berdoalah kepada Tuhanmu untuk Kami agar Dia menerangkan kepada Kami bagaimana hakikat sapi betina itu, karena Sesungguhnya sapi itu (masih) samar bagi Kami dan Sesungguhnya Kami insya Allah akan mendapat petunjuk (untuk memperoleh sapi itu).” (QS. Al-Baqarah: 68-70)

Suka Nyulitin Diri
Coba lihat ayat diatas tampak dialog antara Nabi Musa as dengan bangsa Yahudi, betapa mereka suka mempersulit diri. Padahal ketika Allah Swt menyuruh mereka menyembelih sapi dan langsung menyembelihnya saat itu juga, tentulah Allah tidak akan marah. Mereka malah terus bertanya sapi yang manalah, warna apalah.
Jika ada yang menawarkan kita, ke rumah saya yuk, hari minggu ada pengajian…jawab langsung… Insya Allah saya datang!!!! Meskipun ketika waktunya tiba kita sibuk lah atau berhalangan hadir..nggak apa asal buka disengaja.
Coba kalau kita jawab.. eehh ntar yah…ennghh kalau nggak sibuk…Saya lihat jadwal dulu yah…!!!
Kalau kita mempersulit apa saja meskipun yang sepele sekalipun, tentulah semuanya akan terasa sulit dan berat. Apalagi jika dikaitkan dengan Islam pastilah jika hati atau akal susah diajak kompromi karena dianggap berat, susah apalagi kalau yang datang malas dan lesu.
Lihat Yahudi di ayat atas, mereka terus mengeluh, merintih meskipun banyak nikmat yang mereka rasakan. Pantaslah Allah Swt murka terhadap mereka.

Katakan Aqu Bisa
Ketika kita lihat ada orang yang rajin membaca Qur’an…jangan bilang.. Susah yah kayak gitu!!!… pastilah perbuatan itu akan susah. Tapi bilang… kenapa gue kagak bisa…dia aja bisa kenapa saya tidak!!!. Mudahkan semuanya Insya Allah semuanya mudah. Ketika ada orang bersedekah 1 juta, jangan bilang.. Wah hebat euy…gue sih masih kagak bisa..!!meskipun dananya berlebih. Bilang saja.. …. Saya bisa dan sekarang saya kasih 2 Jutameskipun kita merasa berat mengelurakannya. Pasti ada fase dimana hati dan akal mulai memberi keringanan pada tubuh yang tadinya sulit dikompromikan. Yang paling parah sudah nggagap sulit terus ngomongnya jelek lagi… Ufh Sombong…mentang-mentang punya duit… artinya suka usil lihat orang..semua dikomentari.
Lakukan kebaikan saat ini juga, detik ini juga, menit ini juga, hari ini juga kalau terlintas kebaikan dan taat dalam hati kita. Taat dan kesempatan akan sirna manakala kita menganggap semuanya berat dan sulit.
Bahagia, ketenangan batin, penyelesaian masalah, adem ati pastilah dimiliki oleh orang yang mampu mengambil kesempatan dalam taat seketika itu juga….

Allahumma Sahilna fi Umurina, Allahumma tsabit qolbi ‘ala dinika
Ya Allah mudahkan urusan kami, Ya Allah tetapkan hatiku pada agama MU.